Market Brief 20 Maret 2026: Emas Anjlok, Minyak Bergejolak, Nasdaq Tertekan oleh Sentimen Global

Date:

DCNews, Jakarta — Pergerakan pasar keuangan global pada Jumat (20/3/2026) menunjukkan tekanan yang semakin luas di berbagai instrumen utama, mulai dari emas, minyak, valuta asing hingga indeks saham teknologi. Kombinasi penguatan dolar Amerika Serikat, lonjakan harga energi, dan ketidakpastian geopolitik mendorong pelaku pasar cenderung menghindari risiko (risk-off).

Di pasar komoditas, harga emas dunia (gold) terkoreksi tajam setelah reli panjang sejak awal tahun. Logam mulia ini turun ke kisaran US$4.600 per troy ounce, dipicu aksi ambil untung serta meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Kenaikan imbal hasil obligasi global turut menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Sementara itu, harga minyak mentah (oil) bergerak sangat volatil. Minyak Brent sempat melonjak hingga mendekati US$119 per barel sebelum kembali terkoreksi ke sekitar US$108 per barel. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang berpotensi mengganggu distribusi energi global.

Di pasar valuta asing, pasangan EUR/USD cenderung melemah terbatas terhadap dolar AS. Tekanan terhadap euro muncul dari ketidakpastian ekonomi kawasan Eropa dan sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga energi. Pergerakan masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan defensif.

Hal serupa terjadi pada GBP/USD, di mana poundsterling bergerak relatif stabil namun tetap berada dalam tekanan. Prospek ekonomi Inggris yang melambat serta kebijakan moneter ketat global menjadi faktor penahan penguatan mata uang tersebut.

Sebaliknya, pasangan USD/JPY menunjukkan penguatan dolar terhadap yen Jepang. Perbedaan kebijakan suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang masih menjadi pendorong utama, di tengah meningkatnya permintaan dolar sebagai aset aman.

Dari pasar saham, indeks teknologi Nasdaq kembali melemah tipis. Tekanan datang dari lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi, serta ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Saham teknologi menjadi sektor yang paling sensitif terhadap kondisi ini.

Analisis Pasar: Pasar Global dalam Fase Defensif

Secara keseluruhan, pasar global saat ini berada dalam fase defensif dengan dominasi sentimen risk-off. Kenaikan harga minyak menjadi faktor kunci yang berpotensi memperpanjang tekanan inflasi global, sekaligus menunda pelonggaran kebijakan moneter. Dalam jangka pendek, arah pasar akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan sinyal kebijakan bank sentral, dengan dolar AS diperkirakan tetap kuat, sementara aset berisiko masih rentan terhadap koreksi lanjutan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Beli Mobil Bekas dari Anggota Polisi, Warga NTT Kini Kehilangan Kendaraan karena Kredit Bermasalah

DCNews, Nagekeo — Sebuah kasus penarikan kendaraan di Kabupaten Nagekeo,...

Warning OJK Jabar, Waspadai Fenomena Doom Spending, Pinjol dan Paylater

DCNews, Bandung — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat...

Tersangka Korupsi MBG Bertambah: Kejagung Tahan Komisaris PT YAT Andri Mulyono

DCNews, Jakarta — Penyidikan dugaan korupsi dalam tata kelola Program...

Brasil vs Maroko di Piala Dunia 2026: Selecao Diunggulkan, ‘Singa Atlas’ Siap Ciptakan Kejutan

DCNews, Jakarta - Panggung Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan laga...