DCNews, Jakarta — Pasar keuangan global pada Selasa (10/3/2026) bergerak beragam dengan kecenderungan volatil seiring penguatan dolar Amerika Serikat, lonjakan harga energi, serta meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko geopolitik dan inflasi global. Pergerakan ini tercermin dari koreksi harga emas, fluktuasi tajam minyak mentah, hingga stabilnya indeks saham teknologi Amerika Serikat.
Sentimen pasar pada awal pekan masih dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan moneter global serta perkembangan konflik geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia.
Emas Terkoreksi di Tengah Penguatan Dolar
Harga emas dunia pada perdagangan Selasa terkoreksi setelah sebelumnya menguat tajam. Logam mulia tersebut diperdagangkan di kisaran US$2.160 per troy ounce, tertekan oleh penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Kenaikan yield obligasi membuat emas kurang menarik bagi investor karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, sebagian pelaku pasar mulai melakukan aksi ambil untung setelah reli yang terjadi pada pekan sebelumnya.
Minyak Masih Bergerak Volatil
Harga minyak mentah global masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan naik. Minyak sempat diperdagangkan di kisaran US$80–US$82 per barel, didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan produsen energi menjadi salah satu faktor yang membuat investor tetap waspada terhadap kemungkinan lonjakan harga minyak yang dapat memicu tekanan inflasi global.
EUR/USD Tertekan oleh Dolar
Pasangan mata uang EUR/USD bergerak melemah dan diperdagangkan di sekitar 1,08, seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Penguatan dolar sebagian besar dipicu oleh ekspektasi bahwa kebijakan suku bunga Amerika Serikat masih akan bertahan relatif tinggi dibandingkan kawasan Eropa.
GBP/USD Bergerak Konsolidatif
Poundsterling terhadap dolar AS bergerak terbatas di kisaran 1,27. Mata uang Inggris tersebut cenderung bergerak konsolidatif karena investor masih menilai prospek ekonomi Inggris di tengah tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi global.
Pasar juga menunggu arah kebijakan moneter Bank of England dalam beberapa bulan mendatang.
USD/JPY Mendekati Level Tinggi
Pasangan USD/JPY masih berada dalam tren penguatan dolar dan diperdagangkan di sekitar 149–150. Perbedaan kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan Jepang menjadi faktor utama yang mendorong pergerakan pasangan mata uang ini.
Bank Sentral Jepang yang masih mempertahankan kebijakan moneter longgar membuat yen cenderung melemah terhadap dolar.
Nasdaq Tetap Bertahan
Sementara itu, indeks saham teknologi Nasdaq menunjukkan ketahanan di tengah volatilitas pasar global. Indeks ini bergerak stabil dengan dukungan saham-saham teknologi besar serta optimisme terhadap pertumbuhan sektor kecerdasan buatan (AI).
Kinerja sektor teknologi masih menjadi salah satu penopang utama pasar saham Amerika Serikat di tengah kekhawatiran terhadap inflasi dan suku bunga tinggi.
Analisis Pasar: Pasar Global dalam Fase Wait and See
Secara keseluruhan, pasar global saat ini berada dalam fase wait and see. Investor menimbang risiko inflasi dari kenaikan harga energi sekaligus memantau arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia.
Jika harga minyak terus meningkat dan dolar tetap menguat, tekanan terhadap emas dan mata uang utama non-dolar berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Namun stabilitas sektor teknologi, khususnya di pasar saham Amerika Serikat, masih dapat menjadi penopang sentimen positif bagi pasar keuangan global dalam beberapa waktu ke depan. ***

