DCNews, Jakarta — Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu gejolak di pasar keuangan global pada awal pekan ini. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, disusul laporan penutupan Selat Hormuz oleh Teheran, mendorong lonjakan harga emas dan minyak mentah, sementara indeks saham teknologi di Wall Street berhasil memangkas kerugian dan ditutup menguat tipis.
Perkembangan tersebut mempertegas kembali sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik, terutama ketika menyangkut jalur energi strategis dunia.
Emas Menguat di Tengah Perburuan Aset Aman
Harga emas berjangka di divisi COMEX pada New York Mercantile Exchange melonjak 2,7 persen ke level US$5.389,2 per troy ounce pada penutupan perdagangan Senin (2/3). Pada perdagangan Selasa pagi, harga masih bertahan di kisaran tinggi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai (safe haven).
Di dalam negeri, harga emas batangan produksi Antam ukuran 1 gram tercatat Rp3.122.000, turun tipis Rp13.000 dibandingkan hari sebelumnya, namun tetap berada dalam tren tinggi. Pelaku pasar menilai emas menjadi instrumen proteksi utama ketika ketidakpastian geopolitik meningkat dan volatilitas pasar melonjak.
Minyak Melonjak karena Ancaman Gangguan Pasokan
Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan tajam. Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 naik US$3,69 atau sekitar 6,3 persen menjadi US$71,23 per barel. Sementara itu, minyak Brent menguat US$4,9 atau 6,7 persen ke posisi US$77,74 per barel.
Kenaikan ini dipicu kekhawatiran terganggunya distribusi minyak global setelah Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz—jalur vital yang mengalirkan sekitar sepertiga ekspor minyak dunia melalui laut. Sejumlah analis memperkirakan harga minyak berpotensi menembus kisaran US$90 hingga US$100 per barel apabila gangguan berlangsung lama dan konflik meluas.
Valuta Asing: Dolar AS Menguat, Yen Tertekan
Di pasar mata uang, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama:
EUR/USD diperdagangkan di level 1,1698, melemah tipis. Tekanan terhadap euro muncul akibat potensi dampak lonjakan harga energi terhadap ekonomi zona euro.
GBP/USD berada di level 1,3397, sedikit terkoreksi di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi Inggris akibat tekanan eksternal.
USD/JPY naik ke 157,89, menguat 0,64 persen. Yen Jepang, yang biasanya berfungsi sebagai aset aman, relatif tertekan oleh kebijakan moneter longgar dari Bank of Japan serta penguatan dolar berbasis permintaan global.
Penguatan dolar mencerminkan pergeseran arus dana global ke aset berbasis dolar di tengah ketidakpastian.
Nasdaq Bangkit dari Tekanan Awal
Indeks Nasdaq Composite ditutup naik 0,36 persen pada Senin (2/3), setelah sempat merosot hingga 1,6 persen di awal sesi. Penguatan saham teknologi berkapitalisasi besar membantu menopang indeks, termasuk kenaikan sekitar 3 persen pada Nvidia dan 1,5 persen pada Microsoft.
Meski demikian, volatilitas tetap tinggi karena investor terus menimbang dampak konflik terhadap inflasi global, biaya energi, serta prospek kebijakan suku bunga.
Analisis dan Prospek
Ketegangan geopolitik kini menjadi penggerak utama sentimen pasar global. Lonjakan harga minyak berpotensi memperburuk tekanan inflasi di berbagai negara, sementara penguatan dolar AS dapat menambah tekanan pada mata uang negara berkembang.
Dalam jangka pendek, arah pasar akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik di Timur Tengah—apakah menuju eskalasi lebih luas atau tercapai de-eskalasi diplomatik. Selain faktor geopolitik, investor juga mencermati rilis data inflasi dan tenaga kerja Amerika Serikat pekan ini yang berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter.
Di tengah dinamika tersebut, pelaku pasar disarankan menjaga disiplin manajemen risiko dan mencermati diversifikasi portofolio, mengingat potensi fluktuasi harga yang masih tinggi dalam beberapa sesi ke depan. ***

