Haedar Nashir: Muhammadiyah Tolak Mentalitas “Asal Berhasil”

Date:

DCNews, Jakarta — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa setiap pembangunan yang dilakukan Muhammadiyah tidak semata mengejar capaian fisik atau statistik keberhasilan, melainkan diarahkan untuk mencari rida Allah SWT dan memajukan kehidupan bangsa secara berkelanjutan. Karena itu, ia mengingatkan agar pembangunan tidak dilakukan secara serampangan, termasuk dalam mendefinisikan keberhasilan.

Haedar menekankan bahwa membangun bukan sekadar aktivitas teknokratis, tetapi ikhtiar moral dan spiritual. “Bagi Muhammadiyah, membangun itu bukan asal membangun. Berhasil juga bukan asal berhasil. Kita mengikhtiarkan membangun dan berhasil dengan benar,” ujar Haedar kepada wartawan di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Menurut Haedar, pembangunan Indonesia harus dijalankan secara kolektif, dengan cara yang benar dan patut, serta dilandasi semangat damai di tengah keberagaman. Ia menilai perbedaan kepentingan, golongan, maupun daerah bukanlah hambatan, melainkan potensi kekuatan apabila dikelola dalam bingkai persatuan.

“Dengan keragaman kepentingan, keragaman golongan, dan keragaman daerah, kalau kita bersama, Indonesia akan sukses dan Indonesia Emas bisa kita raih,” katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa perpecahan dan sikap saling menegasikan justru berpotensi melemahkan fondasi sosial, politik, dan ekonomi bangsa. Haedar menyoroti kecenderungan persaingan tidak sehat yang mengedepankan prinsip “the winner takes all”, di mana pihak yang kalah tersisih sepenuhnya dari ruang publik.

“Kalau satu sama lain ingin bertanding lalu yang menang menghabiskan semuanya, sementara yang kalah dipecundangi, kehidupan sosial, politik, dan ekonomi seperti itu tidak akan langgeng,” tegasnya.

Sebagai alternatif, Muhammadiyah, kata Haedar, terus mendorong nilai-nilai ketuhanan yang fungsional bagi kemanusiaan sebagai fondasi membangun peradaban. Ia mengajak umat Islam meneladani sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam kehidupan sosial, menjadikan kasih sayang sebagai orientasi utama dalam relasi antarmanusia.

Di tengah masyarakat yang majemuk, Haedar juga menekankan pentingnya tasamuh atau tenggang rasa untuk menjaga harmoni dan menciptakan perdamaian. Baginya, nilai tersebut bukan sekadar wacana normatif, melainkan prasyarat bagi stabilitas bangsa.

Haedar mengajak seluruh elemen bangsa menghidupkan kembali semangat kebermaknaan dalam setiap peran sosial dan kebangsaan. “Mari kita gelorakan hidup yang bernilai, bermakna, bermaslahat, dan saling membutuhkan satu sama lain. Itulah spirit Muhammadiyah,” serunya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Nabilah Aboebakar: Pemilahan Sampah dari Rumah Jadi Ujian Besar Keberhasilan RDF Rorotan

DCNews, Jakarta — Ambisi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengurangi...

Ekonomi Indonesia Dinilai Akan Pulih Bertahap, Kang Dahlan Ajak Masyarakat Tetap Optimistis dengan Prabowo

DCNews, Jakarta — Di tengah meningkatnya kekhawatiran sebagian masyarakat...

OJK dan ILO Luncurkan Sistem ERP, Permudah Akses Pembiayaan bagi 10.000 Peternak Sapi Perah

DCNews, Malang — Upaya memperluas akses pembiayaan formal bagi peternak...

Pinjol Ilegal Kian Meresahkan, DPR Dorong Koperasi Jadi Solusi Pembiayaan Aman bagi UMKM

DCNews, Jakarta — Di tengah kebutuhan masyarakat yang semakin...