DCNews, Jakarta — Lonjakan harga emas dan pelemahan saham teknologi Amerika Serikat mewarnai pembukaan pasar global, Selasa (24/2/2026), ketika investor bereaksi terhadap kebijakan tarif baru Washington dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Sentimen risk-off kembali mendominasi, mendorong aliran dana ke aset aman dan menekan pasar ekuitas serta valuta asing.
Pergerakan pasar sejak akhir pekan hingga penutupan perdagangan Senin di Amerika Serikat mencerminkan kecemasan pelaku pasar terhadap dampak lanjutan kebijakan tarif global 15 persen yang diumumkan pemerintah AS. Ketidakpastian arah kebijakan perdagangan memperburuk kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Emas Menguat Tajam
Harga emas global mencatat kenaikan signifikan, didorong permintaan lindung nilai di tengah volatilitas pasar. Logam mulia itu menembus level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, menandakan meningkatnya kebutuhan investor terhadap aset safe-haven saat risiko geopolitik dan perang tarif kembali memanas.
Penguatan emas juga dipicu pelemahan dolar AS secara terbatas, yang membuat harga emas lebih menarik bagi pemegang mata uang lain.
Minyak Stabil di Area Tinggi
Di pasar energi, harga minyak mentah dunia bertahan di kisaran tinggi, meski masih di bawah puncak tujuh bulan terakhir. Brent dan West Texas Intermediate (WTI) bergerak relatif stabil, dengan pasar tetap mencermati perkembangan pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan geopolitik dan potensi gangguan pasokan mempertahankan premi risiko pada harga minyak. Namun, kekhawatiran perlambatan ekonomi global akibat kebijakan tarif membatasi ruang kenaikan lebih lanjut.
Pasar Valas Bergerak Terbatas
Di pasar mata uang, pasangan EUR/USD bergerak tipis dengan kecenderungan mixed. Euro memperoleh sedikit dukungan dari pelemahan dolar AS, sementara pelaku pasar menunggu rilis data ekonomi utama serta sinyal kebijakan dari bank sentral Eropa dan Amerika Serikat.
GBP/USD juga diperdagangkan dalam rentang sempit. Minimnya katalis domestik dari Inggris membuat pergerakan pound lebih dipengaruhi sentimen global dan arah dolar AS.
Sementara itu, USD/JPY menunjukkan penguatan dolar terhadap yen Jepang. Meski yen kerap dipandang sebagai aset aman, perbedaan suku bunga dan arus modal global tetap menjadi faktor dominan dalam pergerakan pasangan ini.
Nasdaq Composite Tertekan
Indeks Nasdaq melemah lebih dari 1 persen pada penutupan perdagangan Senin, dipicu aksi jual di sektor teknologi. Kekhawatiran terhadap dampak kebijakan tarif global terhadap rantai pasok dan kinerja korporasi teknologi menekan sentimen investor.
Penurunan di Nasdaq mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap saham berisiko tinggi di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan.
Investor Pilih Strategi Defensif
Secara keseluruhan, pasar global pada Selasa pagi menunjukkan pola defensif. Lonjakan emas menegaskan pergeseran dana ke aset aman, minyak bertahan karena faktor geopolitik, sementara saham dan mata uang utama bergerak dalam tekanan sentimen tarif.
Investor kini menanti data ekonomi terbaru serta arah kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia, yang dinilai akan menjadi penentu arah pasar berikutnya di tengah lanskap global yang semakin tidak pasti. ***

