DCNews, Yogyakarta — Di tengah laju pesat kecerdasan buatan yang kian mendominasi ruang digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan bahwa artificial intelligence (AI) tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan nalar manusia. AI, menurut pemerintah, hanyalah alat bantu yang tetap harus berada di bawah kendali nilai, etika, dan kesadaran kritis manusia.
Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Komdigi, Nursodik Gunarjo, mengatakan bahwa pilar utama dalam pemanfaatan teknologi digital tetaplah manusia, bukan mesin. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan Indonesia.go.id Goes to Campus (IGtC) bertajuk “AI: Sahabat atau Musuh Kreativitas? Bikin Konten Gokil & Tetap Etis” yang digelar di Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) Yogyakarta, baru-baru ini.
“AI adalah alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir. Pilar utamanya tetaplah manusia,” kata Nursodik.
Ia mengakui perkembangan AI bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kesiapan manusia dalam memahami dan mengelolanya. Kondisi tersebut, menurut dia, memunculkan tantangan serius di ruang digital, mulai dari banjir konten hingga persoalan keaslian informasi.
Dalam situasi itu, kemampuan berpikir kritis manusia menjadi faktor penentu. Nursodik menegaskan teknologi tidak pernah benar-benar netral karena selalu membawa nilai dari pihak yang menggunakannya. Karena itu, pemanfaatan AI harus diarahkan agar tetap sejalan dengan nilai kemanusiaan dan kepentingan publik.
Forum IGtC, lanjut dia, dirancang sebagai ruang dialog antara pemerintah dan mahasiswa untuk menumbuhkan kesadaran kritis sekaligus memperkuat literasi digital. Melalui pendekatan ini, generasi muda diharapkan tidak berhenti sebagai konsumen teknologi, tetapi juga menjadi produsen gagasan di ruang digital.
Nursodik mengingatkan, AI justru dapat menjadi ancaman bagi kreativitas apabila seluruh proses berpikir diserahkan sepenuhnya kepada mesin. “Kita ingin Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga produsen gagasan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua STMM Yogyakarta Agung Harimurti menyoroti sisi gelap perkembangan AI yang perlu diantisipasi sejak dini, terutama terkait manipulasi digital dan keamanan informasi. Menurut dia, AI kini telah berevolusi dari sekadar alat otomatisasi menjadi sistem kompleks yang mampu menunjang kreativitas, sekaligus membuka celah penyalahgunaan.
Salah satu ancaman paling nyata, kata Agung, adalah maraknya konten deepfake. Ia mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 tercatat sekitar 8 juta konten deepfake beredar, dengan tingkat keberhasilan manipulasi suara mencapai 77 persen dalam menipu korban.
“Jika pada 2018 pembuatan deepfake suara membutuhkan waktu 56 jam, kini hanya butuh sekitar tiga detik dengan biaya yang sangat murah. Ini ancaman serius bagi ruang publik digital,” katanya.
Agung menekankan pentingnya integritas akademik agar kehadiran AI benar-benar menjadi anugerah, bukan bumerang. Ia mengingatkan agar pemanfaatan AI di dunia pendidikan tidak berujung pada kemalasan berpikir.
“Jangan sampai dosen memberi tugas dengan AI dan mahasiswa menjawab dengan AI, sehingga yang pintar hanya AI-nya saja,” ujar Agung. ***

