DCNews, Jakarta — Harga minyak dunia melemah pada awal pekan perdagangan Asia setelah pasar global mencerna dampak penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS), sebuah peristiwa geopolitik besar yang memunculkan ketidakpastian baru terhadap pasokan minyak mentah dan masa depan sektor energi Venezuela.
Minyak mentah Brent turun mendekati level psikologis US$60 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$57 per barel. Pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang menimbang antara potensi gangguan pasokan jangka pendek dan prospek kelebihan pasokan minyak global dalam jangka menengah.
Pada Sabtu kemarin (2/1/2026), Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa sanksi terhadap industri minyak Venezuela tetap diberlakukan, meskipun ia membuka peluang keterlibatan perusahaan-perusahaan AS dalam upaya membangun kembali infrastruktur energi negara Amerika Latin tersebut. Trump mengisyaratkan proses pemulihan produksi akan berlangsung lama dan tidak serta-merta mengubah dinamika pasar.
Di sisi lain, OPEC+ memilih mempertahankan kebijakan menahan peningkatan produksi pada kuartal pertama tahun ini. Kelompok produsen yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia itu menilai pasar masih dibayangi risiko surplus, sembari menunggu kejelasan mengenai pasokan minyak dari Venezuela pasca-intervensi AS. Pertemuan OPEC+ digelar pada Minggu di tengah tekanan harga dan permintaan global yang melemah.
Venezuela, yang pernah menjadi salah satu raksasa produsen minyak dunia, kini hanya menyumbang kurang dari 1 persen pasokan global setelah dua dekade penurunan produksi akibat krisis ekonomi, sanksi internasional, dan kerusakan infrastruktur. Sebagian besar minyak Venezuela saat ini diekspor ke China, menjadikannya faktor geopolitik yang sensitif dalam peta energi global.
Tekanan Washington terhadap rezim Maduro, termasuk penyitaan kapal tanker yang membawa minyak mentah Venezuela, dilaporkan memaksa penutupan sejumlah sumur minyak. Trump menyatakan perusahaan AS akan menjual minyak Venezuela “dalam jumlah besar” ke pasar global, baik kepada pembeli lama maupun pelanggan baru, sebuah pernyataan yang justru menambah ketidakpastian arah pasokan.
Pada Minggu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington akan menggunakan pengaruhnya atas sektor minyak untuk mendorong perubahan politik lanjutan di Venezuela.
Sumber yang mengetahui situasi tersebut menyebutkan bahwa infrastruktur minyak utama Venezuela tidak terdampak langsung oleh serangan AS di Caracas dan sejumlah wilayah lain.
Meski ketegangan geopolitik meningkat, pasar minyak global saat ini lebih dibayangi oleh risiko kelebihan pasokan, seiring bertambahnya produksi dari OPEC+ dan negara non-OPEC di tengah permintaan yang belum pulih sepenuhnya. Kondisi ini membuat sentimen pasar tetap rapuh, dengan setiap perkembangan geopolitik berpotensi memicu volatilitas harga.
Pergerakan harga minyak:
- Brent kontrak Maret turun 0,4% ke US$60,53 per barel pada pukul 07.02 waktu Singapura.
- WTI kontrak Februari melemah 0,5% ke US$57,06 per barel. ***

