Rupiah Tertekan Jelang Keputusan Fed: Dolar Menguat, Pasar Cemas Soal Arah Fiskal RI

Date:

DCNews,Jakarta — Rupiah kembali dibayangi tekanan pada awal pekan ini, Senin (17/11/2025), seiring sentimen global yang masih diliputi ketidakpastian menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve pada Desember. Penguatan dolar AS dan kecemasan investor terhadap prospek fiskal Indonesia membuat rupiah rawan melanjutkan pelemahan.

Indeks dolar AS ditutup menguat 0,14% pada perdagangan sebelumnya dan kembali naik 0,07% ke level 99,365 pada pagi ini. Kenaikan DXY menambah beban bagi rupiah di pasar offshore, yang melemah 0,05% ke Rp16.735 per dolar AS—lebih lemah dibandingkan penutupan pasar spot Jumat lalu di Rp16.704 per dolar.

Kekhawatiran pasar kian meningkat, terutama dari investor asing, terhadap daya tarik imbal hasil (carry) rupiah yang terus menyusut akibat siklus pelonggaran kebijakan Bank Indonesia. Kondisi tersebut memicu aksi jual di pasar surat utang, dengan investor global masih melepas Surat Utang Negara (SUN) karena ketidakpastian arah fiskal pemerintah dan minimnya kepercayaan investor.

Lanskap global turut mempersempit ruang penguatan mata uang negara berkembang. Sejumlah mata uang Asia pada perdagangan pagi juga bergerak melemah serempak terhadap dolar AS.

Analisis Teknikal

Secara teknikal, rupiah menghadapi risiko penurunan lebih dalam apabila kembali menyentuh dan menembus support terdekat di Rp16.750 per dolar AS. Pelemahan dapat berlanjut menuju support berikutnya di Rp16.800, hingga level support historis di Rp16.870 per dolar AS.

Apabila terjadi penguatan, area resistance yang patut dicermati berada pada rentang Rp16.680–Rp16.600 per dolar, mengikuti garis tren teknikal jangka pendek.

Pernyataan Terbaru Pejabat The Fed

Pasar juga mencerna komentar Presiden Federal Reserve Bank of Atlanta, Raphael Bostic, yang memberi sinyal bahwa ia belum yakin The Fed perlu kembali memangkas suku bunga pada pertemuan Desember.

“Saya bisa mendukung dua pemangkasan sebelumnya, dan kita akan lihat apa yang terjadi untuk yang berikutnya,” ujarnya dalam sebuah acara di Seattle, seperti dikutip Bloomberg. Ia menegaskan bahwa keputusan The Fed akan tetap bergantung pada data terkini.

Pandangan para pejabat The Fed kini terpecah soal perlunya pemangkasan tambahan setelah total penurunan setengah poin sepanjang tahun ini. Investor menilai peluang pemangkasan seperempat poin pada pertemuan 9–10 Desember berada sedikit di bawah 50%, berdasarkan harga kontrak berjangka.

Bostic menyebut situasi ekonomi saat ini “menantang,” dengan dua mandat utama The Fed—stabilitas harga dan tenaga kerja—yang belum bergerak menuju target. Ia menekankan bahwa inflasi masih menjadi risiko paling nyata bagi ekonomi AS.

“Inflasi tetap lebih mendesak. Kita lihat nant,” kata Bostic. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Diduga Debt Collector Leasing Rampas Mobil Warga di Gorontalo, Polisi Amankan Satu Unit Kendaraan

DCNews, Gorontalo — Aparat Polsek Mananggu, Kabupaten Pohuwato, mengamankan satu...

Aria Bima Tegaskan Pilkada Langsung Amanat Konstitusi yang Tak Bisa Ditawar

DCNews, Jakarta — Wakil Ketua Komisi II DPR RI dari...

Gugatan ke MK: Celah Persetujuan Data Pribadi Dinilai Picu Penyalahgunaan Pinjol

DCNews, Jakarta— Ketika negara berupaya membangun perlindungan data pribadi...

Desa Pondasi Bangsa, Habib Aboe: Harus Jadi Subjek Pembangunan

DCNews, Jakarta — Anggota DPR RI dari Fraksi Partai...