DCNews, Singapura — Harga emas dunia berbalik naik setelah empat hari beruntun melemah, di tengah ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan tanda-tanda mencairnya hubungan dagang antara Washington dan Beijing.
Dilansir Bloomberg, harga emas batangan naik 0,9% menjadi sekitar US$3.967 per ons pada Kamis (30/10), setelah sempat merosot hampir 5% selama empat sesi sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di tengah pandangan yang saling bertentangan di tubuh Federal Reserve (The Fed) mengenai prospek penurunan suku bunga berikutnya.
Ketua The Fed Jerome Powell mempersempit peluang pemangkasan suku bunga pada Desember, usai langkah penurunan seperempat poin yang sudah lama diperkirakan pekan ini. Namun, pertemuan kebijakan itu juga memperlihatkan perpecahan suara antarpejabat—tiga kali berturut-turut sejak 2019—menambah kebingungan bagi pelaku pasar yang menanti arah kebijakan moneter ke depan.
Kebijakan Moneter The Fed Kian Membingungkan
Perpecahan di tubuh The Fed menjadi tantangan baru bagi investor, terutama setelah sebagian lembaga pemerintah AS ditutup sementara sejak awal Oktober, menyebabkan kekosongan data ekonomi resmi.
Suku bunga tinggi biasanya menjadi beban bagi emas, karena logam mulia ini tidak menghasilkan imbal hasil tetap. Akibat tekanan itu, harga emas sempat jatuh dari rekor tertinggi US$4.380 per ons yang dicapai pekan lalu — reli yang dianggap terlalu cepat oleh sejumlah analis teknikal.
Sinyal Damai dari Trump dan Xi Dorong Optimisme Pasar
Optimisme pasar juga menguat seiring kabar rencana pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Korea Selatan, Kamis ini. Pertemuan itu disebut-sebut akan menghasilkan “détente” atau jeda damai dalam perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.
Sinyal awal menunjukkan kedua pihak tengah menyiapkan kesepakatan yang dapat menghapus sebagian tarif, biaya, dan pembatasan ekspor, sehingga menenangkan pasar global dan menekan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.
Emas Tetap Perkasa Sepanjang Tahun
Meski terkoreksi belakangan ini, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 50% sepanjang 2025. Reli tersebut didorong oleh aksi beli bank sentral dunia serta meningkatnya minat investor pada perdagangan debasement, yakni strategi menghindari aset berbasis utang negara dan mata uang akibat defisit fiskal yang melebar.
“Pasar emas sedang mengalami koreksi alami, tetapi tren bullish kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya — baik dalam luasnya minat moneter maupun kedalaman permintaan investor,”
ujar Sebastian Mullins, Kepala Divisi Multi-Aset dan Pendapatan Tetap di Schroders, dalam catatannya.
Kenaikan harga juga menarik investor ritel dan institusional untuk masuk ke reksa dana berbasis emas (Exchange-Traded Fund/ETF). Namun, arus keluar dari ETF selama lima hari terakhir — penurunan terpanjang sejak Mei — mulai mengurangi dukungan terhadap reli harga.
Data Terkini Pasar Logam Mulia (per 30 Oktober, 09.08 WIB)
| Komoditas | Harga (US$/ons) | Perubahan (%) | Tren Harian |
|---|---|---|---|
| Emas Spot | 3.962,09 | +0,8 | ⬆️ Rebound |
| Perak | 52,37 | +0,8 | ⬆️ Naik 3 hari beruntun |
| Platinum | 1.142,00 | +0,6 | ⬆️ Menguat |
| Paladium | 1.398,40 | +0,5 | ⬆️ Menguat |
| Indeks Dolar AS (Bloomberg) | — | -0,1 | ⬇️ Melemah |
[Grafik Tren Harga Emas Dunia 7 Hari Terakhir]
(Visual interaktif – format digital)
📈 Grafik menampilkan pergerakan harga emas dari rekor US$4.380 per ons (pekan lalu) ke level US$3.962 per ons (hari ini), menunjukkan volatilitas tinggi yang dipicu oleh kebijakan The Fed dan dinamika geopolitik.
Menanti Laporan World Gold Council
Investor kini menunggu rilis laporan permintaan emas triwulanan dari World Gold Council (WGC) pada Kamis malam. Laporan tersebut akan menjadi petunjuk penting untuk mengukur sejauh mana minat investor dan bank sentral terhadap logam mulia di tengah perubahan arah kebijakan moneter global. ***

