DCNews, Pyongyang — Korea Utara (Korut) kembali memicu ketegangan kawasan dengan mengklaim keberhasilan uji sistem senjata hipersonik terbarunya. Aksi unjuk kekuatan ini dilakukan hanya sepekan menjelang penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Korea Selatan (Korsel), yang akan dihadiri sejumlah pemimpin dunia termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan pada Kamis (23/10/2025) waktu setempat, bahwa “sistem senjata baru” tersebut diuji sebagai bagian dari program penguatan kemampuan pertahanan nasional. Tujuannya, menurut Pyongyang, untuk “meningkatkan efektivitas pencegahan strategis terhadap musuh potensial.”
Peluncuran itu berlangsung sehari setelah Kepala Staf Gabungan Korsel mengonfirmasi adanya dugaan uji rudal balistik jarak pendek yang ditembakkan dari wilayah Pyongyang ke arah timur laut. Dua proyektil dilaporkan berhasil mengenai target di Provinsi Hamgyong Utara, meski tanpa rincian jenis rudal yang digunakan.
Korut, bersama AS dan China, tengah berlomba mengembangkan teknologi senjata hipersonik—rudal berkecepatan tinggi dengan peluncur luncur (glider) bermanuver yang sulit dideteksi sistem pertahanan konvensional. Namun, para analis menilai belum ada bukti pasti bahwa Korut telah menguasai kendaraan luncur hipersonik berfungsi penuh.
Peluncuran ini merupakan yang pertama dalam lebih dari lima bulan terakhir, sekaligus menunjukkan sinyal politik kuat dari Pyongyang. Pemimpin Korut Kim Jong Un pada Januari lalu menegaskan bahwa rudal hipersonik negaranya akan digunakan untuk menahan “rival di kawasan Pasifik.”
Pemerintah Amerika Serikat segera mengecam tindakan Korut sebagai “aksi ilegal dan destabilisasi.” Washington menegaskan akan terus berkonsultasi dengan Seoul dan memperkuat kesiapsiagaan pertahanan. “Fokus kami adalah membela tanah air dan menjaga stabilitas kawasan,” demikian pernyataan Pasukan AS di Korea.
Sementara itu, analis keamanan Hong Min dari Institut Unifikasi Nasional Korea menilai peluncuran ini memiliki makna simbolis. Ia menyebut jarak terbang rudal Korut sejajar dengan jarak dari titik peluncuran ke Gyeongju—kota tuan rumah KTT APEC tahun ini. “Korut tampaknya ingin menyampaikan pesan ancaman secara tidak langsung kepada para pemimpin dunia,” ujarnya.
Langkah provokatif Pyongyang ini menambah daftar panjang uji senjata di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Asia Timur. Dunia kini menanti bagaimana respons diplomatik AS, China, dan Korsel menjelang forum APEC yang diharapkan menjadi ajang dialog ekonomi—bukan arena unjuk kekuatan militer. ***

