Rupiah Menguat di Awal Pekan, Tapi Berisiko Melemah di Tengah Ancaman Tarif Trump dan Tekanan Global

Date:

DCNews, Jakarta — Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (20/10/2025), namun para analis memperkirakan pergerakannya akan fluktuatif dan berpotensi kembali melemah seiring tekanan global yang meningkat.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 0,12 persen atau 20,5 poin ke posisi Rp16.568 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB. Meski demikian, sejumlah analis memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.580–Rp16.630 per dolar AS sepanjang hari, mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat.

Pengamat valas Ibrahim Assuaibi menilai pasar keuangan global tengah menimbang arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang kian condong pada pelonggaran. “Pelaku pasar memperkirakan peluang besar pemangkasan suku bunga The Fed pada Oktober karena inflasi melambat dan pertumbuhan ekonomi AS menunjukkan tanda pelemahan,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya menegaskan pendekatan kebijakan berbasis data dan mengisyaratkan kekhawatiran terhadap melambatnya pasar tenaga kerja. Nada dovish Powell mendapat dukungan dari jajaran The Fed lainnya. Christopher Waller diketahui mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps), sementara gubernur baru Stephen Miran mendorong langkah pelonggaran yang lebih agresif.

Namun, optimisme pelonggaran moneter AS dibayangi ketegangan baru antara Washington dan Beijing. Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana tarif tambahan 100% terhadap seluruh impor asal Tiongkok mulai bulan depan, sebagai respons atas kebijakan pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh Beijing.

“Investor tetap waspada terhadap risiko eskalasi perdagangan AS–Tiongkok yang dapat mengguncang pasar keuangan global, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah,” kata Ibrahim.

Sementara itu, dari dalam negeri, sinyal fundamental masih relatif positif. Realisasi investasi kuartal III/2025 mencapai Rp491,4 triliun, sehingga total realisasi Januari–September menembus Rp1.434,3 triliun atau 75,3 persen dari target tahunan Rp1.905,6 triliun. Pertumbuhan investasi tercatat meningkat 13,9 persen secara tahunan (YoY).

Investasi di luar Pulau Jawa kini menyumbang 54,1 persen dari total, lebih tinggi dibandingkan Jawa yang 45,9 persen, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 696.478 orang. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat Rp212 triliun (43,1%), dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp279,4 triliun (56,9%).

Dari sisi negara asal investasi, Singapura masih mendominasi dengan nilai US$3,8 miliar, disusul Hong Kong (US$2,7 miliar), China (US$1,9 miliar), Malaysia (US$1 miliar), dan Amerika Serikat (US$800 juta).

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan tetap bergerak fluktuatif sepanjang hari, di rentang Rp16.580–Rp16.630 per dolar AS, sebelum menutup perdagangan dengan kecenderungan melemah.

Berikut grafik tren pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS selama sepekan terakhir (13–20 Oktober 2025) yang dapat melengkapi berita Anda. Grafik ini memperlihatkan pergerakan fluktuatif rupiah dengan kecenderungan melemah menjelang pekan ini. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Ancaman PHK Massal Menghantui Industri Manufaktur, DPR Desak Pemerintah Perluas Program Padat Karya

DCNews, Jakarta — Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang...

MSCI Beri Sinyal Positif untuk Pasar Modal Indonesia, OJK Perkuat Reformasi

DCNews, Jakarta — Penyedia indeks saham global Morgan Stanley Capital...

Pelaku Penganiayaan Perempuan di Bandung Ditangkap, Rajiv Minta Polisi Usut Tuntas

DCNews, Jakarta — Penangkapan terduga pelaku penyekapan dan penganiayaan...

5 Alternatif Pinjaman Selain Pinjol yang Legal dan Aman, Solusi Dana Cepat Tanpa Bunga Mencekik

DCNews, Jakarta — Kebutuhan dana mendesak sering kali datang tanpa...