DCNews, Jakarta — Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (16/10/2025), di tengah meningkatnya ketegangan dagang antara Washington dan Beijing yang kembali mengguncang pasar keuangan global. Meski sempat terpuruk, rupiah perlahan mencoba bangkit, mengikuti tren pelemahan dolar yang meluas di kawasan Asia.
Pada pembukaan pasar spot, satu dolar AS tercatat setara dengan Rp16.589, melemah 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Namun hingga pukul 09.04 WIB, depresiasi rupiah menipis menjadi hanya 0,01 persen di posisi Rp16.566 per dolar AS.
Rupiah menjadi satu dari dua mata uang Asia yang masih berada di zona merah, bersama peso Filipina yang terkoreksi 0,03 persen. Sementara mayoritas mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS. Baht Thailand memimpin penguatan dengan apresiasi 0,35 persen, diikuti yen Jepang (0,32 persen), won Korea Selatan (0,3 persen), dan dolar Singapura (0,24 persen).
Pelemahan dolar terlihat dari pergerakan Dollar Index, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Indeks tersebut ditutup melemah 0,35 persen ke posisi 98,695 pada Rabu, dan kembali turun 0,27 persen ke level 98,43 pada Kamis pagi.
Ketidakpastian meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa negaranya “memang sedang berada dalam perang dagang” dengan China.
“Kami memiliki tarif 100%. Jika kami tidak memiliki tarif, maka kami tidak punya apa-apa,” ujar Trump kepada jurnalis, dikutip dari Bloomberg News.
Pernyataan itu memicu kekhawatiran pasar bahwa konflik dagang bakal semakin dalam dan berpotensi memperlambat perekonomian AS. Akibatnya, investor global mulai mengalihkan dana mereka dari aset berbasis dolar ke instrumen lindung nilai seperti emas.
Harga emas dunia bahkan menembus rekor baru di atas US$ 4.200 per troy ons, didorong lonjakan permintaan di tengah volatilitas pasar.
“Kita akan terus melihat fluktuasi tinggi selama hubungan AS–China belum menemukan kejelasan,” kata Nick Twidale, Chief Market Analyst AT Global Markets di Sydney.
Analisis: Ketidakpastian Global Masih Menekan Rupiah

Konsultan keuangan Asep Dahlan menilai pelemahan rupiah kali ini lebih bersifat psikologis ketimbang fundamental. Menurutnya, faktor eksternal seperti perang dagang dan arah kebijakan suku bunga AS menjadi pemicu utama volatilitas mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Rupiah masih cukup tangguh dibandingkan mata uang lain. Namun, sensitivitas terhadap isu eksternal tetap tinggi, terutama ketika sentimen global bergeser cepat,” ujar Asep Dahlan, juga pendiri Dahlan Consultant, saat dihubungi DCNews, Kamis (16/10/2025).
Ia menambahkan, Bank Indonesia kemungkinan akan menjaga stabilitas nilai tukar dengan kombinasi kebijakan intervensi dan penguatan cadangan devisa.
“Selama inflasi terkendali dan arus modal asing tidak keluar signifikan, pelemahan rupiah masih bisa dikelola. Tapi jika ketegangan AS–China berlanjut hingga akhir tahun, tekanan terhadap rupiah bisa meningkat,” katanya.
Menurut Asep, langkah investor yang beralih ke emas menunjukkan meningkatnya kebutuhan akan safe haven asset.
“Kenaikan harga emas ke level di atas 4.200 dolar AS per troy ons adalah sinyal kuat bahwa pasar sedang mencari perlindungan. Ini bukan sekadar reaksi sesaat, tapi mencerminkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Asep merekomendasikan agar pelaku pasar domestik memperkuat diversifikasi investasi dan tetap waspada terhadap perubahan arah kebijakan moneter global.
Grafik: Pergerakan Rupiah dan Harga Emas Dunia
📊 Grafik 1 – Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS (Oktober 10–16, 2025)
- 10 Okt: Rp16.505
- 11 Okt: Rp16.521
- 14 Okt: Rp16.552
- 15 Okt: Rp16.563
- 16 Okt: Rp16.566
📈 Tren menunjukkan pelemahan tipis 0,37% dalam sepekan, didominasi sentimen eksternal dan arus modal keluar dari pasar obligasi domestik.
💰 Grafik 2 – Harga Emas Dunia (US$/troy ons, Oktober 2025)
- 1 Okt: 3.980
- 8 Okt: 4.050
- 13 Okt: 4.120
- 15 Okt: 4.185
- 16 Okt: 4.210 (rekor tertinggi baru)
📈 Kenaikan 5,7% dalam dua pekan terakhir menunjukkan lonjakan permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik global. ***

