DCNews, Jakarta — Harga emas global kembali menguat pada perdagangan Senin (18/8/2025), seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia. Logam mulia itu bertahan di zona hijau baik di pasar spot maupun bursa berjangka (Comex), mempertegas tren bullish yang diproyeksikan berlanjut hingga akhir tahun.
Pada pukul 08.04 WIB, harga emas Comex diperdagangkan di level US$3.386,90 per troy ounce, naik 0,13% atau setara US$4,30 dari harga pembukaan. Sementara itu, harga emas spot menguat 0,14% menjadi US$3.340,77 per troy ounce, mengutip data Bloomberg.
Hingga siang hari, penguatan berlanjut. Pada pukul 12.11 WIB, emas spot menanjak 0,58% ke US$3.355,66 per troy ounce, sedangkan Comex melonjak 0,60% ke US$3.402,80 per troy ounce.
Tren Bullish Menguat
Analis memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$3.600 per troy ounce pada semester II/2025, ditopang kombinasi faktor fundamental dan teknikal. Level support diproyeksikan di kisaran US$3.302–3.319 per troy ounce, sementara resistance berada di rentang US$3.368–3.416 per troy ounce.
“Sentimen bullish emas diperkuat lonjakan Indeks Harga Produsen (IHP) Amerika Serikat yang tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Kondisi ini menyulitkan langkah The Fed untuk memangkas suku bunga,” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, Senin (18/8/2025).
The Fed Dihimpit Inflasi
Data terbaru menunjukkan IHP AS naik 0,9% pada Juli 2025, laju bulanan tercepat sejak tiga tahun terakhir. Secara tahunan, inflasi inti melonjak menjadi 3,7% dari 2,6% pada Juni, jauh di atas konsensus pasar 3%.
Kenaikan harga produsen ini menimbulkan kekhawatiran akan mengalir ke konsumen, mendorong inflasi lebih tinggi. Meski demikian, pelaku pasar masih menaruh harapan The Fed memangkas suku bunga 25 basis poin pada September. Namun peluang pemangkasan lebih agresif, 50 basis poin, dipandang semakin tipis.
Geopolitik dan Sentimen Asia Tekan Pasar
Selain faktor moneter, ketidakpastian geopolitik juga ikut menopang harga emas. Presiden AS Donald Trump berencana menggelar pertemuan trilateral dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Namun, proposal pertukaran wilayah yang ditolak Kyiv masih menjadi ganjalan utama, di tengah negosiasi jaminan keamanan bagi Ukraina.
Dari Asia, rilis data ekonomi Tiongkok menambah tekanan pada pasar global. Output pabrik tumbuh pada laju terendah dalam delapan bulan, sementara penjualan ritel mencatat pertumbuhan paling lambat sejak Desember 2024. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran perlambatan ekonomi di negara pengguna emas terbesar kedua dunia itu.
Dengan kombinasi inflasi tinggi, kebijakan The Fed yang serba dilematis, serta tensi geopolitik yang terus meningkat, emas kian diposisikan sebagai aset lindung nilai utama di paruh kedua 2025. ***

