DCNews, Jakarta – Konsultan keuangan Asep Dahlan menyoroti lonjakan penggunaan pinjaman online (pinjol) di tengah perlambatan ekonomi nasional. Menurut pendiri Dahlan Consultant itu, tren meningkatnya utang masyarakat melalui platform digital bukan hanya gambaran kesulitan keuangan rumah tangga, tetapi juga cermin rapuhnya daya beli di tengah tekanan harga dan terbatasnya lapangan kerja.
“Lonjakan pinjaman online menunjukkan semakin banyak masyarakat yang menggunakan utang untuk kebutuhan konsumtif, bahkan untuk biaya sehari-hari. Ini indikasi serius bahwa perlambatan ekonomi sudah menekan ruang fiskal keluarga,” kata Asep Dahlan kepada DCNews, Minggu (17/8/2025).
Ia menilai, jika dibiarkan tanpa regulasi ketat, fenomena ini bisa menimbulkan risiko sosial dan keuangan yang lebih luas, termasuk meningkatnya gagal bayar, praktik penagihan bermasalah, hingga jebakan bunga tinggi yang menjerat masyarakat kecil.
Masukan untuk Pemerintah
Sebagai pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan memberikan beberapa rekomendasi untuk meredam dampak lonjakan pinjaman daring ini:
1. Perkuat literasi keuangan digital. Menurutnya, banyak masyarakat tidak sepenuhnya memahami risiko pinjaman online, terutama terkait bunga, denda, dan konsekuensi gagal bayar.
2. Dorong penurunan bunga pinjol resmi. Regulator perlu menekan lembaga fintech lending agar tidak membebani peminjam dengan bunga yang mencekik.
3. Sediakan opsi pembiayaan produktif. Pemerintah dan perbankan harus memperluas akses kredit mikro dengan bunga rendah agar masyarakat tidak bergantung pada pinjol konsumtif.
4. Perlindungan data dan mekanisme penagihan. Asep menekankan pentingnya penegakan kode etik agar praktik penagihan tidak melanggar hukum dan melukai martabat peminjam.
“Pinjaman online seharusnya menjadi solusi jangka pendek, bukan perangkap jangka panjang. Kalau tren ini terus meningkat tanpa intervensi, bukan hanya ekonomi rumah tangga yang tertekan, tapi stabilitas ekonomi nasional juga ikut terancam,” pungkas pria yang akrab disapa Kang Dahlan itu. ***

