DCNews, Washington DC — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran berpotensi mengguncang arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Sejumlah ekonom memperingatkan bahwa rencana pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) bisa tertunda, menyusul lonjakan harga minyak dan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi.
Pada Sabtu (14/6/2025), harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan global akibat konflik di kawasan, memperumit tugas bank sentral AS yang sedang menavigasi antara melonggarkan kebijakan dan menjaga kestabilan harga.
“Situasi ini memperbesar kemungkinan The Fed menahan suku bunga setidaknya hingga Desember, sampai mereka memiliki pemahaman lebih mendalam terhadap dinamika inflasi domestik,” ujar Joseph Brusuelas, Kepala Ekonom di RSM US LLP, kepada media.
Kenaikan harga energi dipandang memperparah tekanan inflasi yang sebelumnya sudah terdongkrak oleh kebijakan tarif perdagangan Presiden Donald Trump terhadap sejumlah mitra dagang utama. Dalam catatan yang dirilis Jumat, ekonom Bloomberg Anna Wong dan Tom Orlik memperkirakan jika harga minyak menyentuh US$100 per barel, maka harga bensin di AS akan naik sekitar 17 persen—dari US$3,25 menjadi US$4,20 per galon. Dampaknya, inflasi tahunan pada Juni bisa menembus 3,2 persen.
The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada 17–18 Juni. Meski pasar memperkirakan suku bunga acuan tidak akan berubah, investor kini menurunkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga tahun ini, dari proyeksi 2,1 kali menjadi hanya 1,9 kali sebesar 25 basis poin hingga akhir 2025, menurut data kontrak berjangka.
Namun, analis memperkirakan The Fed belum tentu akan menyinggung langsung konflik di Timur Tengah dalam pernyataan resmi. “Sejauh ini, kami meragukan situasi di Timur Tengah akan disebut,” ujar Michael Feroli, Kepala Ekonom AS di JPMorgan Chase & Co, dalam ulasan pra-pertemuan yang dirilis Jumat.
Meningkatnya ketidakpastian global menempatkan The Fed pada posisi dilematis: antara menenangkan pasar yang mendambakan pelonggaran suku bunga dan menjaga kredibilitas kebijakan anti-inflasi. ***

