NTB Catat Rasio Gagal Bayar Pinjol Tertinggi Nasional, OJK Soroti Literasi Keuangan

Date:

DCNews, Mataram — Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatatkan rasio kredit macet tertinggi dalam sektor pinjaman online (pinjol) per Januari 2025. Ini, mengindikasikan tantangan serius dalam pengelolaan pinjaman berbasis digital di daerah tersebut.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagaimana dilansir DCNews, Minggu (18/5/2025) menunjukkan, tingkat wanprestasi pembayaran (TWP) 90—yakni kredit macet lebih dari 90 hari—di NTB mencapai 3,69 persen. Angka ini menjadikan NTB sebagai provinsi dengan tingkat gagal bayar pinjol tertinggi di Indonesia.

Secara nasional, total nilai pinjaman online yang masih berjalan (outstanding) mencapai Rp78,5 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1,97 triliun atau 2,52 persen tergolong macet. Meski angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan Desember 2024 (2,6 persen) dan Januari 2024 (2,95 persen), perbedaan antarwilayah masih mencolok.

Berikut daftar 10 provinsi dengan rasio TWP 90 tertinggi per Januari 2025:

1. Nusa Tenggara Barat — 3,69%

2. Sumatra Selatan — 3,14%

3. Sumatra Barat — 3,11%

4. Jawa Barat — 3,09%

5. DKI Jakarta — 2,87%

6. Jawa Timur — 2,76%

7. Jawa Tengah — 2,48%

8. Lampung — 2,46%

9. Papua Pegunungan — 2,23%

10. Kepulauan Bangka Belitung — 2,08%

 

Sebaliknya, lima provinsi dengan tingkat kredit macet terendah justru berada di kawasan timur Indonesia. Maluku mencatat rasio TWP 90 terendah secara nasional, yakni 0,78 persen, diikuti Maluku Utara (0,79 persen), Aceh (0,87 persen), Nusa Tenggara Timur (1,03 persen), dan Bali (1,05 persen).

Kepala OJK NTB, dalam pernyataan terpisah, menilai tingginya angka kredit macet dapat mencerminkan rendahnya literasi keuangan digital, kurangnya pemahaman terhadap risiko peminjaman daring, hingga lemahnya sistem mitigasi kredit oleh penyedia layanan fintech.

“Pertumbuhan pinjol harus diimbangi dengan pemahaman masyarakat terhadap tanggung jawab finansial dan perlindungan konsumen,” ujarnya.

Pemerintah daerah dan regulator kini dihadapkan pada tantangan untuk memperkuat edukasi keuangan serta pengawasan terhadap praktik pemberian pinjaman digital, agar lonjakan pinjol tidak berubah menjadi krisis kredit baru di tingkat lokal. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri24 Turun Dua Hari Beruntun, Investor Diminta Cermati Momentum

DCNews, Jakarta — Harga emas batangan yang dipasarkan melalui Pegadaian...

Klasemen Piala Dunia 2026: Meksiko Pimpin Grup A Usai Taklukkan Afrika Selatan 2-0

DCNews, Jakarta — Tuan rumah Meksiko langsung memimpin klasemen...

Piala Dunia 2026 Resmi Dibuka di Meksiko, Argentina Kembali Puncaki Ranking FIFA

DCNewa, Mexico City— Piala Dunia 2026 resmi dimulai setelah...

Piala Dunia 2026 Resmi Bergulir, Meksiko Hadapi Afrika Selatan pada Laga Pembuka

DCNews, Jakarta — Piala Dunia 2026 resmi dimulai dengan...