DCNews, Jakarta – Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan limbah nasional yang terus meningkat, dengan tingkat daur ulang masih di bawah 15 persen. Ketua Kaukus Muda Indonesia (KMI), Edi Homaidi, mendesak pemerintah agar menjadikan pengelolaan limbah sebagai bagian integral dari strategi energi bersih nasional melalui penerapan teknologi waste to energy (WTE).
Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbulan sampah Indonesia pada 2023 mencapai lebih dari 21 juta ton. Namun, upaya daur ulang dan pemanfaatan limbah sebagai sumber energi belum optimal.
“Limbah harus dilihat sebagai sumber daya, bukan sekadar residu,” ujar Edi Homaidi, dalam keterangannya, Selasa (30/4/2025).
Edi Homaidi menekankan bahwa Indonesia memiliki payung hukum kuat untuk mendukung pengelolaan limbah berbasis energi, antara lain Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, Perpres No. 35 Tahun 2018, dan PP No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional. Namun, implementasi di lapangan dinilai masih lemah akibat birokrasi berbelit, minimnya insentif, serta kurangnya edukasi publik.
Salah satu solusi yang ditawarkan KMI adalah optimalisasi teknologi waste to energy (WTE), seperti yang telah diterapkan di PLTSa Benowo, Surabaya, yang mampu menghasilkan 11 megawatt listrik dari 1.000 ton sampah per hari.
“Kita bisa belajar dari Swedia, Jepang, dan Jerman yang telah sukses mengintegrasikan pengelolaan limbah dengan sistem energi terbarukan dan ekonomi sirkular,” ujarnya seraya menyebut negara-negara tersebut tidak hanya memanfaatkan limbah domestik, tetapi juga menerapkan sistem digitalisasi dan kebijakan zero landfill.
Untuk itu, KMI mengusulkan empat langkah konkret: pemberian insentif bagi investor dan industri daur ulang, penguatan kolaborasi lintas sektor, edukasi publik mengenai nilai limbah sebagai energi, serta digitalisasi sistem pengelolaan limbah secara nasional.
“Anak muda dan masyarakat desa bisa menjadi penggerak utama dalam menciptakan ekosistem limbah yang produktif dan berkelanjutan,” tegas Edi Homaidi .
Ia menambahkan bahwa transformasi limbah menjadi energi harus menjadi bagian dari agenda besar Indonesia menuju pembangunan hijau dan transisi energi bersih. ***

