DCNews, Washington – Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik bersenjata yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Kesepakatan tersebut mencakup penghentian operasi militer, pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan energi dunia, serta dimulainya negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi.
Pengumuman itu disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social pada Minggu sore waktu Washington. Tak lama kemudian, Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator dalam perundingan, mengonfirmasi bahwa kedua pihak telah menyetujui sebuah kerangka perdamaian.
Memorandum of Understanding (MoU) yang menjadi dasar kesepakatan tersebut dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat mendatang.
Meski rincian lengkap perjanjian belum dipublikasikan, Sharif menyebut kesepakatan itu mencakup penghentian permanen seluruh operasi militer di berbagai front konflik, termasuk di Lebanon, yang selama ini menjadi salah satu titik paling rumit dalam negosiasi antara Washington dan Teheran.
Pemerintah Iran melalui Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi menyatakan seluruh operasi militer akan dihentikan secara permanen mulai Senin malam waktu setempat.
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Iran, Kazem Gharibabadi mengatakan kedua negara akan memanfaatkan masa gencatan senjata selama 60 hari untuk merundingkan kesepakatan yang lebih komprehensif. Agenda utama pembahasan meliputi pencabutan sanksi terhadap Iran dan masa depan program nuklir negara tersebut.
Selat Hormuz Dibuka Kembali
Dalam pernyataannya, Trump menyebut Selat Hormuz akan kembali dibuka untuk pelayaran internasional mulai Jumat mendatang. Pemerintah AS juga disebut akan mengakhiri blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran yang selama ini menjadi bagian dari tekanan ekonomi terhadap Teheran.
“Kapal-kapal dunia, hidupkan kembali mesin kalian. Biarkan minyak mengalir,” tulis Trump lagi.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan jalur tersebut selama beberapa bulan terakhir telah menyebabkan lonjakan harga energi global dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi internasional.
Pasar merespons positif kabar tersebut. Harga minyak mentah Brent turun sekitar 4 persen pada perdagangan awal Senin, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah lebih dari 4,6 persen. Bursa saham di sejumlah negara Asia juga mencatat penguatan signifikan.
Program Nuklir Iran Masih Menjadi Batu Sandungan
Meski kesepakatan awal telah dicapai, isu program nuklir Iran masih menjadi persoalan utama yang belum terselesaikan.
Sumber diplomatik sebelumnya menyebut pembahasan mengenai nasib cadangan uranium Iran akan menjadi salah satu agenda terpenting dalam perundingan lanjutan. Pemerintah AS menginginkan program nuklir Iran dibongkar secara menyeluruh, sementara Teheran menegaskan program tersebut hanya bertujuan untuk kepentingan sipil dan energi.
Seorang pejabat Iran sebelumnya mengungkapkan bahwa rancangan kesepakatan mencakup kemungkinan pencairan aset Iran senilai US$25 miliar yang selama ini dibekukan. Namun pemerintah AS menegaskan pencairan dana hanya akan dilakukan apabila Iran memenuhi seluruh persyaratan dalam perjanjian perdamaian.
Dalam perkembangan lain, Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia menyatakan kesiapan mereka untuk melonggarkan sanksi terhadap Iran apabila Teheran mengambil langkah yang dapat diverifikasi untuk membatasi aktivitas nuklirnya.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menegaskan kebebasan navigasi di Selat Hormuz harus segera dipulihkan dan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Israel Belum Memberikan Respons Resmi
Hingga pengumuman kesepakatan disampaikan, pemerintah Israel belum memberikan respons resmi.
Israel sebelumnya menyatakan tidak terlibat dalam pembicaraan langsung antara Amerika Serikat dan Iran. Namun laporan media Israel menyebut Trump telah menghubungi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memberikan perkembangan terbaru mengenai proses perdamaian tersebut.
Hubungan Trump dan Netanyahu belakangan dilaporkan mengalami perbedaan pandangan terkait operasi militer Israel di Lebanon. Dalam wawancara dengan New York Times, Trump bahkan menyebut Netanyahu sebagai sosok yang “sulit” dalam proses diplomasi kawasan.
Israel selama ini menegaskan tetap mempertahankan kebebasan operasi militernya di Lebanon, sementara Iran menjadikan penghentian serangan di wilayah tersebut sebagai salah satu syarat utama menuju perdamaian.
Ribuan Korban dan Dampak Politik di dalam Negeri AS
Konflik yang dimulai sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon.
Iran membalas dengan melancarkan serangan ke Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Teheran juga menerapkan blokade de facto terhadap Selat Hormuz yang menyebabkan harga energi dunia melonjak tajam.
Di dalam negeri Amerika Serikat, perang tersebut menjadi beban politik bagi Trump dan Partai Republik. Survei menunjukkan banyak warga Amerika kecewa terhadap kenaikan harga bahan bakar menjelang pemilu sela Kongres pada November mendatang.
Meski demikian, sebagian kalangan Partai Republik tetap mendesak agar program nuklir Iran dihentikan sepenuhnya sebelum kesepakatan permanen disahkan.
Senator Republik Lindsey Graham menyambut baik kesepakatan tersebut, namun menegaskan Kongres akan mengawasi secara ketat setiap perjanjian terkait program nuklir Iran.
Kronologi Konflik hingga Kesepakatan Perdamaian
Konflik meningkat pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target strategis Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan ke Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Situasi semakin memburuk ketika Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Sebagai respons, Washington memperketat blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pakistan kemudian mengambil peran sebagai mediator dan memfasilitasi komunikasi antara kedua negara. Setelah serangkaian negosiasi intensif, AS dan Iran akhirnya menyepakati kerangka perdamaian yang mencakup penghentian operasi militer, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta perundingan lanjutan mengenai pencabutan sanksi dan program nuklir Iran.
Kesepakatan resmi dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada Jumat mendatang, yang berpotensi menjadi titik balik penting bagi stabilitas Timur Tengah dan pasar energi global. ***

