DCNews, Jakarta – Masyarakat perlu lebih berhati-hati sebelum mengambil pinjaman daring, terutama terhadap pola pembayaran yang menempatkan beban cicilan sangat besar pada awal masa pinjaman. Skema yang dikenal dengan istilah tadpole atau skema kecebong tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko gagal bayar apabila tidak disesuaikan dengan kemampuan arus kas peminjam.
Pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, lewaf kegerangan tertulisnya, Minggu (16/8/2026) menjelaskan istilah tadpole digunakan karena pola pembayaran pinjaman menyerupai bentuk kecebong: bagian “kepala” besar di awal, kemudian mengecil ke bagian belakang.
Dalam materi edukasi mengenai skema tersebut, pembayaran pada bulan pertama digambarkan dapat mencapai sekitar 70 persen dari utang dan bunga, sementara pada bulan-bulan berikutnya pembayaran dapat turun menjadi sekitar 10 persen hingga pinjaman selesai.
Namun, Kang Dahlan mengingatkan angka tersebut merupakan gambaran pola pembayaran, bukan berarti seluruh pinjaman daring menerapkan komposisi yang sama. Menurut dia, persoalan utama yang perlu diperhatikan masyarakat bukan semata-mata besar atau kecilnya cicilan, melainkan kemampuan arus kas ketika kewajiban terbesar jatuh tempo.
“Teman-teman, kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan skema tadpole atau skema kecebong dalam pinjaman daring. Disebut tadpole karena pola pembayarannya seperti kecebong: kepalanya besar di awal, kemudian mengecil di bagian belakang,” ujar Kang Dahlan.
Beban Besar di Awal Menjadi Titik Risiko
Kang Dahlan menjelaskan, karakter utama skema tadpole adalah adanya beban pembayaran yang jauh lebih besar pada awal pinjaman dibandingkan periode berikutnya. Dalam sejumlah contoh yang dibahas publik, cicilan awal bahkan dapat mengambil porsi sangat besar dari total kewajiban peminjam.
“Masalahnya bukan sekadar besar atau kecilnya cicilan. Yang harus diperhatikan adalah kemampuan arus kas kita ketika cicilan besar tersebut jatuh tempo,” kata dia lagi.
Persoalan dapat muncul ketika seseorang baru menerima dana pinjaman, tetapi dalam waktu singkat harus menyediakan uang dalam jumlah besar untuk membayar kewajiban pertama.
Jika pendapatan belum mencukupi atau tidak tersedia dana cadangan, risiko keterlambatan pembayaran akan semakin tinggi.
“Kalau seseorang baru menerima pinjaman, kemudian dalam waktu singkat harus menyediakan dana yang sangat besar, sementara penghasilannya belum mencukupi, maka risiko gagal bayar menjadi semakin tinggi. Di sinilah yang saya khawatirkan,” ujar Kang Dahlan.
Jangan Tertipu Cicilan Berikutnya yang Lebih Kecil
Menurut Kang Dahlan, masyarakat juga perlu menghindari jebakan psikologis ketika melihat cicilan pada bulan-bulan berikutnya tampak jauh lebih ringan.
Cicilan kecil setelah bulan pertama tidak serta-merta menunjukkan bahwa pinjaman tersebut murah atau aman. Justru, calon peminjam harus melihat keseluruhan struktur kewajiban sejak awal.
“Jangan sampai karena cicilan berikutnya terlihat kecil, kita merasa pinjaman tersebut ringan,” kata Kang Dahlan.
Ia meminta masyarakat setidaknya memeriksa lima hal sebelum menyetujui pinjaman, yakni besaran pembayaran pertama, jarak jatuh tempo, total kewajiban, seluruh biaya yang dikenakan, serta jumlah dana yang benar-benar diterima peminjam.
“Lihat dulu pembayaran pertama, jarak jatuh temponya, total kewajiban, biaya, dan berapa dana sebenarnya yang kita terima,” ujarnya.
Hal tersebut penting karena angka pinjaman yang tertera di aplikasi belum tentu sama dengan jumlah uang bersih yang masuk ke rekening setelah dikurangi biaya tertentu.
Risiko Gali Lubang Tutup Lubang
Asep menilai risiko terbesar muncul ketika peminjam tidak mampu memenuhi kewajiban pertama, kemudian mencari pinjaman baru untuk menutup pinjaman sebelumnya.
Kondisi tersebut dapat menciptakan siklus utang yang semakin sulit dihentikan. “Karena ketika kita tidak mampu membayar cicilan awal, seseorang bisa terdorong mencari pinjaman baru untuk menutup pinjaman lama. Akhirnya terjadi gali lubang tutup lubang. Pola seperti ini dapat memperburuk kondisi keuangan,” kata Kang Dahlan.
Jika berlangsung berulang, pendapatan yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari justru semakin banyak dialihkan untuk membayar kewajiban dari pinjaman sebelumnya.
Pada akhirnya, pinjaman yang semula dimaksudkan sebagai solusi kebutuhan keuangan dapat berubah menjadi sumber persoalan baru.
Tadpole Bukan Berarti Otomatis Pinjaman Ilegal
Kang Dahlan juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan istilah tadpole dengan pinjaman ilegal. Tadpole pada dasarnya menggambarkan struktur atau pola pembayaran, bukan label yang secara otomatis menentukan legal atau ilegalnya sebuah penyelenggara pinjaman daring.
Karena itu, masyarakat tetap perlu memeriksa legalitas penyelenggara, membaca perjanjian pinjaman, memahami biaya dan manfaat ekonomi, serta memastikan seluruh kewajiban dapat dipenuhi.
“Yang tidak kalah penting, konsumen harus memahami bahwa pinjaman tetap merupakan kewajiban, meskipun proses pengajuannya mudah dan dana dapat diterima dalam waktu relatif cepat,” sebutnya.
Empat Pertanyaan Sebelum Mengambil Pinjaman
Kang Dahlan meminta masyarakat mengubah cara berpikir sebelum mengajukan pinjaman. Menurut dia, calon peminjam jangan hanya bertanya mengenai berapa besar dana yang dapat diperoleh.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah utang tersebut dapat dikembalikan tanpa mengganggu kebutuhan pokok dan kondisi keuangan keluarga. “Jangan hanya bertanya, ‘Berapa uang yang bisa saya pinjam?’” kata dia.
Sebaliknya, calon peminjam perlu mengajukan setidaknya empat pertanyaan kepada dirinya sendiri:
“Berapa sebenarnya yang saya terima?”
“Berapa total yang harus saya kembalikan?”
“Kapan pembayaran pertama jatuh tempo?”
“Apakah penghasilan saya benar-benar mampu membayarnya?”
Empat pertanyaan tersebut menjadi penting terutama ketika struktur pembayaran menempatkan beban terbesar pada periode awal.
Jangan Meminjam Karena Panik
Menurut Kang Dahlan, kondisi terdesak sering kali membuat seseorang mengambil keputusan keuangan secara terburu-buru.
Ketika kebutuhan mendesak muncul, calon peminjam cenderung lebih fokus pada seberapa cepat uang dapat dicairkan daripada bagaimana kewajiban tersebut akan dibayar. Padahal, keputusan mengambil utang seharusnya dilakukan dengan perhitungan yang rasional.
“Jangan mengambil keputusan hanya karena sedang terdesak,” ujar Kang Dahlan seraya mengingatkan agar masyarakat harus memahami seluruh konsekuensi sebelum menekan tombol pengajuan pinjaman, termasuk kemudahan akses pembiayaan harus diimbangi dengan kemampuan mengelola utang.
Edukasi Menjadi Kunci
Kang Dahlan menilai literasi keuangan menjadi salah satu benteng penting agar masyarakat tidak terjebak dalam pola utang yang semakin berat. Masyarakat perlu memahami perbedaan antara jumlah pinjaman, dana bersih yang diterima, total kewajiban, pembayaran pertama, dan total biaya pinjaman.
Dengan memahami kelima komponen tersebut, calon peminjam dapat menilai apakah suatu produk pembiayaan benar-benar sesuai dengan kemampuan keuangannya.
Skema pembayaran yang terlihat ringan pada bulan kedua atau ketiga tidak boleh membuat konsumen mengabaikan beban yang harus ditanggung pada bulan pertama.
Pesan untuk Masyarakat
Kang Dahlan menegaskan, tujuan edukasi mengenai skema tadpole bukan untuk menakut-nakuti masyarakat agar sama sekali tidak menggunakan layanan pinjaman daring. Sebaliknya, masyarakat perlu menjadi konsumen yang lebih kritis dan memahami konsekuensi setiap keputusan keuangan.
“Pahami skemanya sebelum meminjam. Hitung kemampuan sebelum menyetujui. Dan jangan biarkan satu pinjaman membuat kita terpaksa mengambil pinjaman berikutnya,” katanya.
Menurut dia, prinsip sederhana dalam mengambil pinjaman adalah memastikan bahwa utang tidak menggerus kemampuan memenuhi kebutuhan hidup dan tidak menciptakan utang baru untuk membayar utang lama.
“Nasihat saya sederhana: jangan hanya bertanya berapa uang yang bisa saya pinjam. Tapi tanyakan juga berapa sebenarnya yang saya terima, berapa total yang harus saya kembalikan, kapan pembayaran pertama jatuh tempo, dan apakah penghasilan saya benar-benar mampu membayarnya,” ujar Kang Dahlan.
Pada akhirnya, masyarakat harus memahami bahwa cicilan yang mengecil di belakang tidak otomatis membuat sebuah pinjaman aman. Dan, yang paling penting adalah memastikan kemampuan melewati kewajiban sejak pembayaran pertama.
“Pahami skemanya, hitung kemampuan, dan jangan sampai satu pinjaman memaksa kita mengambil pinjaman berikutnya,” tutup Kang Dahlan menekankan. ***

