DCNews, Jakarta — Harga emas batangan yang dipasarkan melalui laman resmi Sahabat Pegadaian tercatat turun pada Kamis pagi (26/2/2026), dengan produk UBS dan Galeri24 sama-sama mengalami koreksi dibandingkan posisi sehari sebelumnya.
Berdasarkan pantauan pukul 07.24 WIB, harga emas UBS berada di level Rp3.082.000 per gram, turun dari Rp3.099.000 per gram pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, emas Galeri24 dibanderol Rp3.057.000 per gram, melemah dari posisi Rp3.085.000 per gram sehari sebelumnya.
Pegadaian menegaskan harga jual emas dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar global dan nilai tukar rupiah.
Produk Galeri24 tersedia dalam berbagai pilihan berat, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram (1 kilogram). Adapun emas UBS dipasarkan dalam ukuran 0,5 gram hingga 500 gram.
Sementara itu, harga emas produksi Logam Mulia atau Antam diperbarui di laman resminya setelah pukul 08.30 WIB setiap hari kerja.
Daftar Harga Emas Galeri24
- 0,5 gram: Rp1.604.000
- 1 gram: Rp3.057.000
- 2 gram: Rp6.041.000
- 5 gram: Rp14.991.000
- 10 gram: Rp29.902.000
- 25 gram: Rp74.352.000
- 50 gram: Rp148.587.000
- 100 gram: Rp297.026.000
- 250 gram: Rp740.741.000
- 500 gram: Rp1.481.481.000
- 1.000 gram: Rp2.962.961.000
Daftar Harga Emas UBS
- 0,5 gram: Rp1.665.000
- 1 gram: Rp3.082.000
- 2 gram: Rp6.115.000
- 5 gram: Rp15.109.000
- 10 gram: Rp30.060.000
- 25 gram: Rp75.002.000
- 50 gram: Rp149.695.000
- 100 gram: Rp299.272.000
- 250 gram: Rp747.957.000
- 500 gram: Rp1.494.159.000
Analisis Pasar
Penurunan harga emas domestik ini diduga dipengaruhi oleh pergerakan harga emas global yang cenderung terkoreksi dalam beberapa sesi terakhir, seiring penguatan dolar AS dan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Di dalam negeri, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut menjadi faktor penentu pembentukan harga emas ritel. Ketika dolar menguat, harga emas global biasanya tertekan, namun dampaknya di pasar domestik bisa tertahan atau bahkan berbalik arah jika rupiah melemah.
Bagi investor ritel, koreksi harga seperti ini kerap dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi, terutama bagi yang berorientasi jangka panjang. Namun, volatilitas masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, bergantung pada data inflasi global dan arah kebijakan moneter yang akan diumumkan dalam waktu dekat. ***

