DCNews, Bangkok – Kehadiran signifikan para regulator keuangan dalam konferensi Money20/20 menunjukkan semakin besarnya pengakuan dari lembaga-lembaga ini terhadap pentingnya mengadopsi teknologi keuangan baru (fintech), atau berisiko tertinggal dalam era keuangan digital.
Scarlett Sieber, Kepala Strategi dan Pertumbuhan Money20/20 — ajang fintech global berbasis di AS — menilai bahwa regulator kini ingin menjadi peserta aktif dalam perjalanan keuangan digital demi menjaga daya saing negara mereka. Hal ini juga mencerminkan upaya mereka memanfaatkan keahlian dari dalam industri untuk mendukung peran mereka.
“Peran regulator dalam keuangan digital sangat penting. Jika kita membiarkan teknologi berkembang tanpa pengawasan, maka akan muncul berbagai masalah. Karena itu, keseimbangan sangat penting dan regulator perlu dibekali pengetahuan serta keahlian guna mendukung industri fintech,” ujarnya kepada StarBiz, sebagaimana dikutip DCNews, Senin (5/5/2025).
Sieber menambahkan bahwa konferensi Money20/20 di Asia baru memasuki edisi keduanya, setelah pertama kali diselenggarakan di Amerika Serikat pada 2012. Tiga tahun lalu, penyelenggara mengambil keputusan strategis untuk memfokuskan perhatian pada para regulator.
“Untuk memajukan industri, regulasi adalah kunci. Tim kami terdiri dari mantan bankir, pemodal ventura, dan bahkan jurnalis, yang membangun konten acara ini dan menjalin hubungan dengan para pelaku utama. Dengan Money20/20, para regulator juga menggunakan platform kami untuk menyampaikan pengumuman penting kepada industri,” ujar Siebet seraya mengakui kalau tahun lalu, sesi bersama Bank of Thailand (BoT) menjadi yang paling populer.
Inklusif Keuangan
Dalam acara terbaru, Wakil Gubernur BoT, Roong Mallikamas, dalam pidato utamanya menyoroti tantangan inklusi keuangan.
“Kawasan kita, sebagai mosaik ekonomi yang dinamis, menawarkan peluang luar biasa bagi inovasi fintech,” ungkapnya.
Namun, lanjut Roong, sebagian besar populasi kita masih belum memiliki akses atau hanya memiliki akses terbatas terhadap layanan keuangan formal. Sebagai contoh, studi menunjukkan bahwa lebih dari 60% orang dewasa di beberapa negara ASEAN tidak memiliki akses terhadap layanan keuangan formal.
Ia mencatat bahwa ekonomi digital ASEAN diperkirakan akan melampaui US$360 miliar pada tahun 2025.
Untuk membuka peluang bagi komunitas yang belum terlayani, BoT mengadopsi kerangka kerja “3 Terbuka” – kompetisi terbuka, infrastruktur terbuka, dan data terbuka.
Roong menjelaskan bahwa hambatan inklusi berasal dari keterbatasan data untuk penilaian kredit, kurangnya transparansi, dan lemahnya interoperabilitas sistem, yang menyebabkan tingginya biaya akuisisi nasabah bagi bank tradisional.
Ia menambahkan bahwa perusahaan fintech, dengan kelincahan dan pendekatan yang berfokus pada data, berada pada posisi yang tepat untuk menjembatani kesenjangan ini.
Sementara itu, Sieber menambahkan bahwa dalam acara terbaru di Bangkok, para regulator mengadakan sesi tertutup untuk membahas aspek penting pengembangan fintech di Asia Tenggara.
Pernyataan pers yang dikeluarkan oleh Money20/20 menyebutkan bahwa forum ini memungkinkan regulator untuk berbagi pandangan terkait prioritas nasional, tantangan, dan peluang dalam bidang fintech dan keuangan terbuka (open finance).
Hasil penting dari sesi tersebut termasuk pengakuan bahwa kolaborasi antarnegara Asia yang lebih kuat dapat meningkatkan inklusi keuangan dan mendukung keberhasilan fintech serta open finance di kawasan ini.
Para regulator juga sepakat mengenai perlunya memperkuat sistem data domestik, menyatakan kesediaan untuk menjajaki kemitraan bilateral, serta berkomitmen untuk mendorong kerja sama regional yang lebih luas. Mereka mengakui adanya tujuan bersama, namun tetap menghormati perbedaan nasional.
Pernyataan pers itu juga menyebut bahwa para regulator menganggap keamanan data dan privasi konsumen sebagai “hal yang sangat penting dan akan diperlakukan sebagai prioritas utama.”
Disebutkan pula bahwa regulator berupaya “meningkatkan saling pengertian dan dialog melalui pertukaran pandangan, tantangan, dan pendekatan regulasi yang berkelanjutan dalam fintech.”
Money20/20 – yang kini dijuluki sebagai ajang fintech terdepan di dunia – berlangsung selama tiga hari, dengan lebih dari 3.000 peserta dari 87 negara, termasuk 24 negara kawasan Asia-Pasifik.
Lebih dari 250 pembicara industri dari Asia tampil di empat panggung utama, membahas topik-topik kunci seperti kecerdasan buatan, pembayaran lintas negara, perbankan terbuka, aset digital, mata uang digital bank sentral, dan inklusi keuangan. ***

