Dolar AS Melemah dan Wall Street Menguat Usai Sinyal Perdamaian Iran–AS soal Selat Hormuz

Date:

DCNews, Jakarta — Harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menggerakkan pasar global pada awal perdagangan Asia, Senin (25/5/2026). Sinyal diplomatik mengenai kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz mendorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus mengangkat kontrak berjangka saham-saham utama Wall Street, meski investor masih dibayangi ketidakpastian terkait finalisasi kesepakatan antara Washington dan Teheran.

Pasar merespons positif pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa kesepakatan damai dengan Iran “sebagian besar telah dinegosiasikan.” Optimisme itu memicu penurunan permintaan terhadap aset aman dan menghidupkan kembali minat investor terhadap aset berisiko.

Pada perdagangan awal Asia, pasangan EUR/USD menguat 0,34 persen ke level 1,1642. Sementara itu, indeks dolar AS turun ke posisi 99,10. Di pasar ekuitas, futures Nasdaq melonjak sekitar 0,9 persen dan futures S&P 500 naik 0,6 persen, dipicu ekspektasi bahwa normalisasi jalur pelayaran energi dunia dapat menekan kembali risiko inflasi global.

Pernyataan Trump di platform Truth Social menjadi katalis utama pergerakan pasar. Ia mengungkapkan telah berbicara dengan sejumlah pemimpin kawasan terkait sebuah “Nota Kesepahaman mengenai Perdamaian,” termasuk agenda pembukaan kembali Selat Hormuz — jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.

Dari Teheran, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pembicaraan telah memasuki “tahap akhir” untuk penyusunan nota tersebut. Pemerintah Iran juga memperkirakan negosiasi lanjutan untuk kesepakatan yang lebih luas dapat berlangsung dalam 30 hingga 60 hari mendatang.

Namun, optimisme pasar tidak sepenuhnya berlangsung tanpa kehati-hatian. Trump pada Minggu menegaskan bahwa Washington tidak akan “tergesa-gesa” menuntaskan kesepakatan. Ia juga menyatakan blokade terhadap kapal Iran tetap akan diberlakukan hingga seluruh perjanjian resmi “diselesaikan, disertifikasi, dan ditandatangani.”

Laporan Reuters menyebut kerangka kesepakatan yang sedang dibahas mencakup tiga tahapan utama: penghentian konflik, penyelesaian krisis Selat Hormuz, dan pembukaan negosiasi lanjutan selama 30 hari untuk perjanjian geopolitik yang lebih komprehensif.

Di sisi lain, media pemerintah Iran, Fars, melaporkan bahwa rancangan kesepakatan akan tetap memberikan Iran kontrol atas Selat Hormuz. Klaim tersebut memperlihatkan masih adanya perbedaan interpretasi mengenai poin-poin krusial dalam negosiasi.

Ketegangan di kawasan Hormuz sebelumnya telah memicu gejolak besar di pasar energi global. Harga minyak Brent sempat melesat menembus USD 114 per barel pada awal Mei setelah bentrokan terjadi di dekat pelabuhan minyak Uni Emirat Arab. Namun, harga minyak kemudian turun hampir 5 persen sepanjang pekan lalu seiring meningkatnya harapan diplomatik.

Analis pasar menilai reli aset berisiko masih sangat bergantung pada kejelasan implementasi kesepakatan, terutama terkait pencabutan sanksi terhadap Iran dan kepastian akses pelayaran internasional.

Sementara itu, isu strategis lain seperti program nuklir Iran dan aktivitas pengayaan uranium masih belum disentuh dalam pembahasan tahap awal tersebut. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

DPR Percepat Rehabilitasi Pascabencana Sumatera, Kebutuhan Huntap Tembus 39 Ribu Unit

DCNews, Jakarta — Pemerintah bersama DPR RI mempercepat upaya rehabilitasi...

Biodiversitas Laut Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Rokhmin Dahuri Dorong Transformasi Ekonomi Biru Nasional

DCNews, Jakarta — Di tengah persaingan geopolitik global dan...

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 25 Mei 2026 Stabil, Antam Tetap Rp2,87 Juta per Gram

DCNews, Jakarta — Harga emas di Pegadaian pada perdagangan Senin...

Pemimpin Sejati: Dihormati karena Amanah, Disegani karena Keadilan

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi (Anggota Fraksi PKS DPR...