IHSG Diproyeksi Sideways Cenderung Melemah, Investor Waspadai Tekanan Global dan Aksi Profit Taking

Date:

SCNews, Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (13/1), setelah pada sesi sebelumnya turun 0,58 persen dan ditutup di level 8.884,7, seiring meningkatnya aksi ambil untung serta sentimen global yang memburuk.

Dalam riset terbarunya, Phintraco Sekuritas menilai kegagalan IHSG bertahan di atas level psikologis 9.000 memicu profit taking, terutama pada saham-saham konglomerasi yang sebelumnya menjadi motor penguatan indeks. Tekanan tersebut diperparah oleh kekhawatiran pasar terhadap rencana perubahan kebijakan perhitungan free float oleh MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada akhir Januari.

Aksi jual yang sempat berubah menjadi panic selling mendorong IHSG tertekan hingga level 8.715, sebelum akhirnya membaik, meski tetap ditutup di zona negatif.

“IHSG ditutup di bawah level MA5. Indikator MACD dan Stochastic RSI mengindikasikan potensi berlanjutnya koreksi yang didukung oleh volume jual,” tulis Phintraco Sekuritas. “Dengan kondisi tersebut, IHSG berpeluang menguji area support di kisaran 8.725–8.800.”

Dari sisi domestik, data menunjukkan penjualan ritel Indonesia tumbuh 6,3 persen secara tahunan (year-on-year) pada November 2025, meningkat dari 4,3 persen YoY pada Oktober dan menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024. Namun sentimen positif ini belum cukup menahan tekanan pasar.

Nilai tukar rupiah kembali melemah dan ditutup di level Rp16.855 per dolar AS pada perdagangan Senin (12/1), dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global serta kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik.

Dari luar negeri, pasar global dibayangi eskalasi risiko geopolitik dan politik. Konflik internal di Iran, yang dipicu gelombang protes dan korban jiwa, dinilai berpotensi memperburuk ketegangan global, terlebih setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka kemungkinan intervensi.

Di saat yang sama, bursa Eropa dibuka melemah pada Senin (12/1), sementara indeks futures Wall Street bergerak di zona negatif. Tekanan bertambah setelah Departemen Kehakiman AS membuka penyelidikan kriminal terhadap Chairman The Federal Reserve, Jerome Powell, terkait kesaksiannya di Komite Perbankan Senat mengenai renovasi gedung kantor pusat bank sentral AS.

Pasar menilai langkah tersebut sebagai sinyal tekanan politik terhadap The Fed, bahkan dipersepsikan sebagai upaya mempercepat pergantian pimpinan bank sentral sebelum masa jabatan Powell berakhir pada Mei 2026.

Untuk perdagangan hari ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham TLKM, KLBF, ASII, BTPS, dan MBMA, dengan tetap mengedepankan strategi selektif dan manajemen risiko di tengah volatilitas pasar. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

NIK Disalahgunakan untuk Pinjol? Begini Cara Melindungi Identitas dan Keuangan

Oleh: Asep Dahlan Konsultan Keuangan sekaligus Pendiri Dahlan Consultants |...

Satgas Pasti Tangani 330 Aktivitas Keuangan Ilegal, IASC Blokir 702.833 Rekening

DCNews, Jakarta — Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal...

Menkomdigi Laporkan Kejahatan Digital ke Kapolri, dari Jual Beli Data hingga Penipuan Online

DCNews, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan...

Harga Emas Antam Naik Rp10.000, Selasa 27 Oktober 2026, Tembus Rp2,55 Juta per Gram

DCNews, Jakarta – Harga emas batangan PT Aneka Tambang...