Pindar Jadi Sumber Pinjaman Utama di Kota Besar, Skema Cicilan ‘Tadpole’ Dinilai Membebani Konsumen

Date:

DCNews, Jakarta – Riset terbaru Segara Institute menunjukkan pergeseran signifikan dalam pola masyarakat Indonesia mencari sumber pembiayaan, dengan pinjaman daring (pindar) kini menempati posisi dominan di sejumlah pusat ekonomi besar. Temuan ini sekaligus menyoroti maraknya penggunaan skema cicilan “tadpole” yang dinilai menekan peminjam karena membebankan porsi pembayaran terbesar di awal tenor.

Survei yang digelar pada Juni–Juli 2025 di 20 daerah melibatkan 2.118 responden dari beragam profesi, usia, dan tingkat pendidikan. Hasilnya memperlihatkan bahwa saat menghadapi defisit keuangan, 39,05 persen masyarakat memilih meminjam dari keluarga. Sementara itu, 29,37 persen responden mengandalkan pindar, disusul pinjaman ke teman sebesar 19,74 persen dan bank hanya 8,45 persen.

Menariknya, pindar menjadi sumber pinjaman nomor satu di beberapa provinsi dengan aktivitas ekonomi tinggi. Di Jawa Timur, 50,87 persen responden memilih pindar, di Banten 51,93 persen, dan di DKI Jakarta 35,86 persen.

Segara Institute juga mencatat perilaku peminjam yang terjebak skema cicilan “tadpole” — pola pembayaran dengan beban terbesar di awal, baik dari sisi nominal maupun frekuensi cicilan. Kondisi ini membuat tekanan finansial peminjam semakin berat pada awal tenor, terutama bagi mereka yang sedang menghadapi kebutuhan darurat seperti biaya kesehatan atau pendidikan.

Sekretaris Eksekutif Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Rio Priambodo, menilai skema cicilan reguler dengan pembayaran stabil memberi ruang bagi konsumen untuk mengatur arus kas. Sebaliknya, skema tadpole meningkatkan risiko gagal bayar sejak awal karena beban besar muncul ketika peminjam berada dalam kondisi paling rentan.

“Skema tadpole rentan terhadap risiko gagal bayar yang nanti juga akan berdampak pada usaha bisnis. YLKI menilai skema bisnis tidak boleh memberatkan konsumen dan harus berkelanjutan bagi pelaku usaha,” kata Rio, Jumat (12/12/2025).

Rio berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat pengawasan agar penerapan skema tadpole lebih transparan serta tidak merugikan masyarakat yang mengandalkan pinjaman untuk kebutuhan mendesak. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rasio Gagal Bayar Pinjol Naik Jadi 4,73 Persen, Mendekati Ambang Batas OJK

DCNews, Jakarta — Rasio gagal bayar pinjaman online (pinjol)...

Dampak Karhutla di Kalsel, Habib Aboe Sediakan Cek Kesehatan dan Bagi Masker Gratis

DCNews, Kandangan — Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla)...

OJK Tegaskan Tak Cekal Dirut MNC Bank Rita Montagna, Isu Penahanan Paspor Dibantah

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan tidak...

Fahri Hamzah: Dua Tahun Prabowo-Gibran, Ekonomi Pancasila dan Penguatan Institusi Jadi Kunci

DCNews, Jakarta — Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia...