DCNews, Jakarta — Di tengah derasnya arus tren gaya hidup dan budaya aktualisasi diri di media sosial, generasi muda kembali diingatkan akan risiko perilaku konsumtif yang kian menggerus kesehatan finansial mereka. Peringatan itu disampaikan Abdul Hadi, Sustainability Finance Head Bank Danamon, yang menilai banyak anak muda membeli barang bukan atas dasar kebutuhan, melainkan karena tekanan sosial dan ketakutan tertinggal tren.
Abdul menekankan bahwa pola konsumsi impulsif dapat diatasi dengan disiplin pengelolaan keuangan yang terukur. Ia mendorong generasi muda menerapkan formula alokasi keuangan 50-30-20 sebagai standar dasar perencanaan finansial.
“Lima puluh persen untuk kebutuhan, 30 persen untuk gaya hidup, dan 20 persen untuk tabungan serta investasi,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (26/11/2025).
Selain itu, Abdul menggarisbawahi pentingnya menyiapkan dana darurat, terutama untuk menghadapi situasi tak terduga seperti sakit, kehilangan pendapatan, atau kerusakan kendaraan.
“Menabung itu gaya hidup. Dibutuhkan disiplin dan kontrol pengeluaran agar tujuan jangka panjang bisa tercapai,” kata Abdul menutup penjelasan.
Jika ingin, saya bisa siapkan versi media cetak, versi bisnis online, atau layout-ready seperti permintaan Anda pada berita sebelumnya. ***

