Krisis Kripto Terbesar Sepanjang Sejarah: US$ 19 Miliar Terlikuidasi Usai Trump Umumkan Tarif Baru China

Date:

DCNews, New York — Pasar kripto global diguncang guncangan terbesar sepanjang sejarah setelah aksi likuidasi senilai lebih dari US$ 19 miliar menghantam aset digital pada Jumat (10/10/2025). Kepanikan investor memuncak menyusul kebijakan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberlakukan tarif 100% untuk impor asal China dan mengancam pembatasan ekspor perangkat lunak strategis.

Menurut laporan Reuters yang dikutip DCNews, Selasa (14/10/2025), aksi jual besar-besaran ini memicu fluktuasi harga ekstrem di tengah rendahnya likuiditas pasar. Kejatuhan kali ini disebut sembilan kali lebih parah dibandingkan crash Februari 2025, dan 19 kali lebih besar dari kehancuran pasar kripto pada Maret 2020 maupun insiden FTX tahun 2022.

Bitcoin, mata uang kripto terbesar dunia, sempat anjlok 14% ke US$ 104.782,88 dari rekor tertingginya US$ 122.574,46 yang dicapai sehari sebelumnya. Harga kemudian pulih tipis ke US$ 115.718,13 pada perdagangan Selasa. Sebelumnya, Bitcoin sempat mencetak rekor baru di atas US$ 126.000 pada 6 Oktober 2025.

Kripto terbesar kedua, Ether (ETH), turun 12,2% ke US$ 3.436,29 sebelum menguat kembali ke US$ 4.254. Sementara altcoin seperti HYPE, DOGE, dan AVAX mengalami koreksi tajam antara 54% hingga 70% sebelum sedikit pulih.

Meski sempat memanas, Trump berusaha meredakan ketegangan dengan mengatakan pada akhir pekan bahwa “semuanya akan baik-baik saja.” Namun, Beijing menuding Washington sebagai biang eskalasi, meski belum mengumumkan langkah balasan baru.

Volatilitas pasar pun melonjak di seluruh kontrak opsi jangka pendek dan panjang. “Investor kini lebih khawatir terhadap risiko penurunan harga,” ujar Sean Dawson, Kepala Riset di Derive.xyz, dikutip Reuters. Data platform itu menunjukkan lonjakan pembelian put options untuk Bitcoin dan Ether — sinyal kuat bahwa investor bersiap menghadapi koreksi lanjutan.

Posisi jual terbesar tercatat di kisaran US$ 115.000 dan US$ 95.000 untuk jatuh tempo 31 Oktober 2025, sementara pembelian call options justru menurun untuk jatuh tempo 17 Oktober 2025. Untuk Ether, fokus investor tertuju pada level US$ 4.000 dan US$ 3.600 di Oktober, serta US$ 2.600 untuk Desember — memperkuat indikasi sentimen bearish hingga akhir tahun.

Namun, analis on-chain Willy Woo melihat sisi positif. Ia menilai arus investasi ke Bitcoin masih kuat, menjadikannya lebih tangguh dibanding aset lain seperti Ether dan Solana yang mencatat arus keluar dana signifikan.

“Crash ini memang menyakitkan, tapi juga membersihkan leverage berlebih dan mengatur ulang risiko di pasar,” kata analis kripto sekaligus pendiri The Coin Bureau Nic Puckrin. “Tantangan berikutnya bagi Bitcoin adalah menembus resistensi teknikal untuk mencetak rekor baru sebelum akhir tahun.” ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Dukung Kenaikan Tunjangan Guru ASN dan Non-ASN, Ingatkan Pemerintah Fokus pada Kesejahteraan dan Mutu Pendidikan

DCNews, Jakarta - Di tengah upaya pemerintah memperkuat kualitas...

Harga Emas Hari Ini 14 Juni 2026: Antam Naik Tipis, UBS dan Galeri24 Stabil

DCNews, Jakarta — Harga emas batangan yang dipasarkan melalui Pegadaian...

Cara Membersihkan Skor Kredit SLIK OJK agar KPR Rumah Cepat Disetujui

DCNews, Jakarta — Masyarakat yang berencana mengajukan Kredit Pemilikan Rumah...

Beli Mobil Bekas dari Anggota Polisi, Warga NTT Kini Kehilangan Kendaraan karena Kredit Bermasalah

DCNews, Nagekeo — Sebuah kasus penarikan kendaraan di Kabupaten Nagekeo,...