DCNews, Jakarta — Harga emas batangan Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) kembali mencetak rekor baru pada perdagangan Selasa (14/10/2025). Kenaikan tajam harga emas dunia mendorong lonjakan signifikan harga emas di dalam negeri.
Emas Antam hari ini dibanderol Rp2.360.000 per gram, naik Rp29.000 dibandingkan posisi kemarin. Harga pembelian kembali (buyback) juga melonjak ke Rp2.209.000 per gram, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan logam mulia Antam.
Kenaikan tersebut sejalan dengan lonjakan harga emas dunia yang pada perdagangan Senin (13/10) ditutup di level US$4.129,6 per troy ons, naik 2,9% dari akhir pekan lalu. Harga itu menjadi rekor tertinggi sepanjang masa di pasar spot internasional.
Dalam sepekan terakhir, harga emas global telah menguat 4,2% secara point-to-point, sementara dalam sebulan terakhir naik 12,21%. Sejak awal tahun 2025 (year-to-date), kenaikannya telah mencapai 55,84% — sebuah reli yang jarang terjadi dalam dua dekade terakhir.
Bank Sentral Dunia Jadi Pembeli Besar
Analis menilai, lonjakan harga emas dipicu oleh meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara. Berdasarkan riset Deutsche Bank AG, tren ini dimulai pasca krisis keuangan global 2008 ketika investor institusional beralih ke aset aman (flight to safety), dan kini diperkuat oleh gejolak geopolitik serta ketidakpastian ekonomi global.
“Akibat peningkatan volatilitas pasar, bank sentral kembali menambah porsi emas di neraca mereka. Lebih dari 36.000 ton emas kini tercatat sebagai cadangan resmi bank sentral di seluruh dunia,” tulis laporan tersebut.
Perubahan ini juga menunjukkan pergeseran orientasi cadangan devisa global dari dolar Amerika Serikat (AS) ke aset lain. Pada tahun 2000, porsi dolar AS dalam cadangan devisa dunia mencapai 60%, namun kini tinggal 41%.
Suku Bunga Turun, Emas Melesat
Selain faktor geopolitik, tren penurunan suku bunga global turut memperkuat sentimen positif terhadap emas. Bank sentral AS, Federal Reserve, diperkirakan akan kembali memangkas suku bunga acuannya.
Berdasarkan data CME FedWatch, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75–4% pada rapat bulan ini mencapai 98,9%, dengan peluang tambahan penurunan pada Desember mendatang.
Sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), emas menjadi lebih menarik ketika suku bunga turun, karena biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih rendah.
Dengan tren ini, pelaku pasar memperkirakan harga emas dunia berpotensi menembus US$4.200 per troy ons dalam waktu dekat, sekaligus membuka peluang bagi emas Antam untuk kembali mencetak rekor harga baru di pasar domestik.
Grafik: Pergerakan Harga Emas Antam (September–Oktober 2025)
📊 Harga Emas Antam (Rp/gram)
Tanggal Harga Emas Antam (Rp/gram)
------------------------------------------
14 Sept 2025 2.085.000
21 Sept 2025 2.145.000
28 Sept 2025 2.210.000
5 Okt 2025 2.290.000
10 Okt 2025 2.331.000
14 Okt 2025 2.360.000
Kenaikan dalam 30 hari terakhir: +13,2%
Kenaikan sejak awal 2025: +55,84%
Analisis Singkat
Lonjakan harga emas global dan domestik mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi dunia. Sentimen “pelarian ke aset aman” semakin kuat di tengah melambatnya ekonomi Tiongkok, konflik di Timur Tengah, dan ketidakpastian kebijakan moneter AS.
Jika tren pembelian bank sentral dan pelonggaran moneter berlanjut, analis memperkirakan harga emas domestik dapat menembus Rp2,4 juta per gram sebelum akhir 2025 — level psikologis baru yang menandai babak baru reli logam mulia di pasar global dan Indonesia. ***

