DCNews, Jakarta — Lapisan masyarakat kelas menengah, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, kini menghadapi tekanan finansial yang kian berat. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, serta cicilan rumah dan kendaraan yang terus menumpuk membuat kelompok ini berada di persimpangan: bertahan dengan susah payah atau tergelincir ke jurang kemiskinan.
Ironisnya, kelompok kelas menengah kerap berada di wilayah “abu-abu” ekonomi. Mereka tidak cukup miskin untuk menerima bantuan sosial dari pemerintah, tetapi juga belum cukup kuat secara finansial untuk mengakses layanan pembiayaan formal yang ringan dan aman. Dalam situasi seperti ini, sebagian mulai menguras tabungan bahkan bergantung pada pinjaman online (pinjol) untuk menutupi kebutuhan sehari-hari—sebuah solusi jangka pendek yang berpotensi menjadi jebakan panjang.
Krisis Gaya Hidup dan Ilusi Kemapanan
Menurut Asep Dahlan, konsultan keuangan yang banyak mendampingi keluarga kelas menengah, tantangan terbesar mereka bukan semata-mata stagnasi pendapatan, melainkan krisis gaya hidup.
“Banyak keluarga masih berusaha mempertahankan standar hidup lama ketika semua harga sudah naik. Mereka tidak menyadari bahwa kondisi ekonomi makro berubah, tapi kebiasaan finansialnya tidak ikut menyesuaikan,” kata Asep saat ditemui di Jakarta.
Kelas menengah, lanjutnya, sering terjebak dalam ilusi kemapanan—terlihat mapan dari luar, tetapi rapuh secara finansial di dalam.
“Rumah ada, mobil ada, tapi tabungan menipis dan kartu kredit penuh. Itu bukan kemapanan, itu ilusi kestabilan,” ujarnya tegas.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tren penggunaan pinjaman online dan paylater meningkat signifikan di kalangan profesional muda dan keluarga urban. Fenomena ini mencerminkan tekanan likuiditas sekaligus gaya hidup yang tak berimbang.
Saatnya Audit Keuangan Pribadi
Asep menekankan pentingnya langkah awal berupa audit keuangan pribadi, yaitu proses mencatat seluruh arus kas rumah tangga—pendapatan, pengeluaran rutin, cicilan, dan pos konsumtif.
“Kita tidak bisa memperbaiki apa yang tidak kita ukur. Banyak orang baru sadar betapa borosnya setelah menulis semua pengeluarannya selama sebulan,” jelasnya.
Dari audit sederhana itu, biasanya muncul “peta bocor” finansial: pengeluaran kecil tapi rutin seperti langganan digital, makan di luar, atau impuls belanja online yang tanpa disadari menggerogoti stabilitas keuangan.
Tiga Pilar Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi
Untuk menghadapi badai ekonomi saat ini, Asep memberikan tiga langkah kunci yang bisa diterapkan oleh siapa pun di kelas menengah:
- Bangun Dana Darurat, Mulai dari Sekarang.
“Banyak keluarga tidak punya bantalan finansial sama sekali. Minimal siapkan dana setara tiga kali pengeluaran bulanan. Kalau belum bisa besar, mulai kecil tapi rutin,” ujar Asep.
Dana darurat ibarat payung saat hujan datang tiba-tiba—bukan pilihan, tapi kebutuhan. - Ubah Pola Konsumsi Jadi Produktif.
Menurut Asep, kini saatnya mengalihkan sebagian pengeluaran konsumtif ke hal-hal yang bisa menambah kapasitas diri.
“Daripada cicilan gadget baru, lebih baik investasi di kursus online, sertifikasi, atau modal usaha kecil. Itu cara bertahan yang cerdas,” katanya. - Bangun Komunikasi Finansial dalam Keluarga.
Sering kali, masalah keuangan diperburuk oleh ketidakterbukaan antara pasangan.
“Diskusi soal uang bukan tabu. Justru dengan terbuka, kita bisa mencegah konflik dan membuat keputusan bersama yang realistis,” tambahnya.
Berhenti Hidup dari Gaji ke Gaji
Fenomena living paycheck to paycheck kini tak hanya terjadi di kalangan buruh atau pekerja upah minimum, tetapi juga profesional muda bergaji menengah ke atas. Menurut Asep, penyebabnya bukan hanya penghasilan yang terbatas, tetapi pola pikir finansial yang konsumtif dan reaktif.
“Setiap kenaikan gaji diikuti kenaikan gaya hidup. Padahal yang harus naik lebih dulu adalah tabungan dan investasi, bukan pengeluaran,” ujarnya.
Asep menyarankan agar setiap individu mengadopsi prinsip ‘bayar diri sendiri terlebih dahulu’, yakni menyisihkan minimal 10–20% pendapatan untuk tabungan dan investasi sebelum membelanjakan sisanya. Prinsip sederhana ini, kata Asep, bisa menjadi pembeda antara mereka yang bertahan dan mereka yang tumbang di tengah tekanan ekonomi.
Menatap Masa Depan dengan Disiplin Finansial
Bagi kelas menengah Indonesia, tantangan ke depan akan semakin kompleks. Teknologi mempercepat perubahan, biaya hidup terus meningkat, sementara jaring pengaman sosial belum menjangkau mereka secara optimal. Dalam situasi ini, disiplin finansial bukan lagi sekadar anjuran, melainkan strategi bertahan hidup.
“Kelas menengah harus sadar bahwa bertahan di tengah ketidakpastian bukan soal seberapa besar gaji, tapi seberapa cerdas mengelola setiap rupiah,” tutup Asep Dahlan.
“Kemapanan sejati bukan ketika kita bisa membeli segalanya, tapi ketika kita bisa hidup tenang tanpa takut tanggal gajian.”
Infografik Teks: 5 Kesalahan Umum Keuangan Kelas Menengah
1. Tidak Punya Dana Darurat
Banyak keluarga hidup tanpa tabungan untuk keadaan darurat. Akibatnya, setiap kejadian tak terduga langsung memicu utang baru.
2. Gaya Hidup Naik Seiring Gaji Naik
Begitu gaji bertambah, pengeluaran ikut melonjak. Tabungan dan investasi justru tetap stagnan.
3. Ketergantungan pada Kartu Kredit dan Pinjol
Pinjaman instan sering jadi solusi jangka pendek, tapi menjadi beban jangka panjang yang menggerus keseimbangan finansial.
4. Tidak Mencatat Pengeluaran
Tanpa catatan keuangan, sulit mengontrol arus kas dan mengetahui kebocoran pengeluaran kecil yang ternyata besar dampaknya.
5. Tidak Melibatkan Keluarga dalam Keputusan Keuangan
Kurangnya komunikasi finansial membuat pasangan atau anggota keluarga mengambil keputusan berbeda arah, menambah risiko konflik dan pemborosan.
Checklist Kesehatan Finansial Versi Asep Dahlan
✅ Sudah punya dana darurat minimal 3 bulan pengeluaran
✅ Tidak menunggak cicilan dan kartu kredit
✅ Menyisihkan minimal 10% penghasilan untuk tabungan/investasi
✅ Punya catatan arus kas pribadi
✅ Tidak tergantung pada pinjaman konsumtif
Kesimpulan:
Kelas menengah kini sedang menghadapi ujian nyata: bagaimana tetap bertahan dan menjaga martabat ekonomi di tengah gejolak harga dan stagnasi penghasilan. Namun seperti pesan Asep Dahlan, bertahan bukan berarti pasrah—melainkan menjadi lebih bijak, disiplin, dan realistis dalam setiap keputusan finansial. ***

