DCNews, Jakarta — Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali bergerak datar pada perdagangan Minggu (12/7/2026). Setelah mengalami fluktuasi dalam beberapa pekan terakhir, logam mulia tersebut bertahan di level Rp2.655.000 per gram. Kondisi ini dinilai memberikan ruang bagi investor untuk mengevaluasi strategi investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pergerakan pasar keuangan.
Berdasarkan data resmi Logam Mulia, harga emas Antam tidak berubah dibandingkan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga buyback atau pembelian kembali juga tetap berada di level Rp2.415.000 per gram.
Stabilnya harga emas menunjukkan bahwa pasar masih menunggu katalis baru, baik dari perkembangan ekonomi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral maupun pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Meski tidak mengalami kenaikan, emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang dipilih masyarakat sebagai aset lindung nilai (safe haven) saat ketidakpastian ekonomi meningkat.
Emas Antam dipasarkan dalam berbagai ukuran, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram (1 kilogram). Variasi tersebut memungkinkan investor, baik pemula maupun berpengalaman, menyesuaikan pembelian dengan kemampuan finansial dan tujuan investasinya.
Berikut daftar harga emas Antam pada Minggu (12/7/2026):
- 0,5 gram: Rp1.377.500
- 1 gram: Rp2.655.000
- 2 gram: Rp5.250.000
- 3 gram: Rp7.850.000
- 5 gram: Rp13.050.000
- 10 gram: Rp26.045.000
- 25 gram: Rp64.987.000
- 50 gram: Rp129.895.000
- 100 gram: Rp259.712.000
- 250 gram: Rp649.015.000
- 500 gram: Rp1.297.820.000
- 1.000 gram (1 kilogram): Rp2.595.600.000.
Dalam setiap transaksi emas batangan, pemerintah juga menerapkan ketentuan perpajakan sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017. Pembelian emas dikenai Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,25 persen bagi pemilik Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), sedangkan transaksi buyback di atas Rp10 juta dikenakan tarif 1,5 persen bagi pemilik NPWP dan 3 persen bagi pembeli yang tidak memiliki NPWP. Pajak tersebut dipotong langsung saat transaksi berlangsung.
Analisis Dahlan Consultant: Stabilnya Harga Emas Bukan Tanda Prospek Melemah
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, yang akrab disapa Kang Dahlan, menilai harga emas yang bergerak stabil seharusnya tidak dipandang sebagai sinyal melemahnya prospek investasi logam mulia. Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
“Investor tidak perlu hanya berorientasi pada kenaikan harga harian. Emas merupakan instrumen pelindung nilai yang efektif ketika inflasi meningkat, nilai tukar bergejolak, atau terjadi ketidakpastian ekonomi global. Strategi membeli secara berkala (dollar cost averaging) jauh lebih bijak dibanding menunggu harga mencapai titik terendah yang sulit diprediksi,” ujar Kang Dahlan.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar menjadikan emas sebagai bagian dari diversifikasi portofolio, bukan satu-satunya instrumen investasi. Menurutnya, komposisi investasi yang seimbang antara emas, deposito, reksa dana, maupun aset produktif lainnya akan membantu menjaga stabilitas keuangan sekaligus mengurangi risiko ketika kondisi pasar berubah secara tiba-tiba. ***

