DCNews, Semarang — Gaji bulanan yang seharusnya menopang kebutuhan keluarga tak lagi cukup bagi Andini. Ketika biaya hidup terus meningkat, tabungannya terkikis sedikit demi sedikit. Untuk membayar kebutuhan sehari-hari dan pendidikan dua anaknya, perempuan yang tinggal di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu akhirnya mencari pinjaman online (pinjol).
“Gaji UMK tidak cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari plus biaya pendidikan dua anak,” kata Andini, Selasa (20/10/2026).
Semula, Andini mengandalkan tabungan untuk menutup kekurangan pengeluaran. Namun, ketika uang simpanannya semakin menipis dan kebutuhan mendadak datang, pinjol menjadi pilihan yang dianggap bisa menyelamatkan keuangan rumah tangganya.
Ia memberanikan diri meminjam karena memperhitungkan gaji bulanan masih bisa digunakan untuk membayar cicilan. Keputusan itu diambil bukan semata-mata untuk memenuhi keinginan konsumtif, melainkan untuk menjaga kebutuhan keluarga tetap terpenuhi di tengah anggaran yang semakin sempit.
“Tabungan terus menyusut karena biaya hidup semakin tinggi. Ketika ada kebutuhan mendadak, akhirnya harus mencari pinjol,” tuturnya.
Bagi Andini, pinjol menjadi cara untuk menutup kekurangan ketika pendapatan tak lagi sebanding dengan pengeluaran. Bagi Roki, warga Kota Semarang, pinjaman daring bermula dari situasi yang lebih mendasar: kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan.
Roki terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada awal 2026. Tanpa penghasilan tetap, ia meminjam Rp 2 juta melalui aplikasi pinjol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pinjaman itu awalnya dimaksudkan sebagai penyangga keuangan selama ia menghadapi masa sulit. Namun, ketika kewajiban pembayaran datang sementara penghasilan belum pulih, ia kembali meminjam melalui aplikasi lain untuk menutup utang sebelumnya.
Pola gali lubang tutup lubang itu membuat jumlah kewajibannya terus bertambah. Kini, Roki tercatat memiliki utang di tujuh aplikasi pinjol dengan total kewajiban pembayaran lebih dari Rp 9 juta.
“Awalnya pinjam Rp 2 juta karena kena PHK dan tidak punya penghasilan. Lama-lama terpaksa pinjam lagi di aplikasi lain,” kata Roki.
Beban utang itu kini membawanya pada pilihan yang tak mudah. Roki mempertimbangkan menjual sepeda motor, satu-satunya aset yang dimilikinya, untuk melunasi pinjaman.
“Kalau memang sudah tidak ada jalan lain, motor satu-satunya ini akan saya jual untuk melunasi utang,” ujarnya.
Kisah Andini dan Roki memperlihatkan dua jalan berbeda menuju persoalan yang sama. Bagi satu orang, pinjol menjadi pilihan ketika pendapatan tak mampu mengejar pengeluaran. Bagi yang lain, pinjaman menjadi penopang setelah kehilangan pekerjaan, sebelum kewajiban pembayaran justru mempersempit ruang untuk bertahan.
Inflasi dan Tekanan Pengeluaran Rumah Tangga
Tekanan yang dirasakan kedua warga tersebut berlangsung di tengah kenaikan harga barang dan jasa. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Jawa Tengah mencapai 3,18 persen pada September 2026. Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,31 persen.
Sejumlah komoditas pangan, antara lain beras, cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, dan telur ayam ras, turut memengaruhi perkembangan inflasi pada periode tersebut.
Kenaikan harga kebutuhan pokok dapat menambah tekanan pada rumah tangga, terutama ketika pendapatan tidak bertambah sebanding. Bagi pekerja dengan anggaran terbatas, pengeluaran untuk pangan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan mendadak harus bersaing dalam ruang keuangan yang sama.
Dari sisi pendapatan, rata-rata upah bersih buruh, karyawan, dan pegawai di Jawa Tengah pada Februari 2026 tercatat sebesar Rp 2.462.759 per bulan.
Angka tersebut merupakan rata-rata statistik untuk kelompok pekerja yang dicakup dalam data, bukan gambaran penghasilan setiap pekerja di Jawa Tengah. Nilai itu juga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh pekerja menerima upah setara atau di bawah upah minimum kabupaten/kota (UMK).
Bagi Andini, persoalannya bukan hanya besaran gaji, melainkan kemampuan pendapatan tersebut untuk menutup seluruh kebutuhan keluarga. Sementara bagi Roki, hilangnya penghasilan setelah PHK membuat kemampuan membayar cicilan menjadi persoalan yang jauh lebih mendesak.
Ribuan Pengaduan Pinjaman Daring
Tekanan keuangan rumah tangga juga berlangsung di tengah persoalan konsumen terkait layanan pinjaman daring. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 1.948 pengaduan terkait pinjaman daring di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta hingga 30 Juni 2026.
Data tersebut merupakan gabungan pengaduan dari dua wilayah. Karena itu, angka tersebut tidak dapat dibaca sebagai jumlah pengaduan khusus Jawa Tengah, terlebih sebagai jumlah seluruh peminjam yang mengalami masalah utang.
Meski demikian, data itu memberikan konteks mengenai adanya persoalan konsumen yang berkaitan dengan layanan pinjaman daring di wilayah tersebut.
Pengalaman Andini dan Roki menunjukkan bahwa kebutuhan mendesak dapat menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk mengambil pinjaman. Namun, kemampuan membayar kembali sangat bergantung pada kondisi keuangan setelah pinjaman diterima.
Ketika pengeluaran terus meningkat, tabungan menipis, atau pekerjaan hilang, cicilan yang semula dianggap dapat ditanggung berisiko menjadi beban tambahan. Jika pinjaman baru digunakan untuk membayar kewajiban lama, jumlah utang dapat membesar sementara kemampuan membayarnya belum tentu membaik.
Bagi Andini, tantangannya adalah memenuhi kebutuhan keluarga tanpa terus menggerus tabungan. Bagi Roki, persoalannya lebih berat: ia harus mencari jalan keluar dari tumpukan kewajiban pembayaran setelah kehilangan pekerjaan.
Di tengah tekanan tersebut, pinjol yang semula dipilih sebagai jalan keluar justru dapat berubah menjadi persoalan baru ketika kemampuan membayar tidak lagi sejalan dengan besarnya kewajiban. ***

