DCNews, Jakarta — Membeli mainan untuk mengobati penat setelah bekerja mungkin terasa seperti cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental. Namun, ketika kebiasaan itu menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah setiap bulan tanpa perencanaan, hobi yang semula memberi kesenangan justru berisiko membebani keuangan pribadi.
Fenomena orang dewasa yang membeli dan mengoleksi mainan, mulai dari figur aksi hingga komik, menjadi bagian dari pertumbuhan kidult economy. Tren ini membuka peluang bisnis bagi industri mainan, tetapi sekaligus menuntut konsumen lebih cermat membedakan kebutuhan emosional dari kemampuan finansial.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Gancar C. Premananto, mengingatkan bahwa kebiasaan belanja yang dibenarkan sebagai self-reward perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang disiplin. Tanpa batas pengeluaran yang jelas, pemenuhan hobi dapat berkembang menjadi perilaku konsumtif dan meningkatkan risiko terjerat utang, termasuk pinjaman online (pinjol).
Kidult Economy dan Pergeseran Pasar Mainan
Kiddult economy merujuk pada aktivitas ekonomi yang menyasar konsumen dewasa yang masih menikmati produk dan pengalaman yang identik dengan masa kanak-kanak. Segmen ini mencakup kolektor mainan, penggemar karakter populer, pembeli komik, hingga konsumen produk hiburan berbasis nostalgia.
Perkembangan pasar tersebut turut dipengaruhi perubahan demografi di sejumlah negara, terutama penurunan angka kelahiran. Ketika jumlah konsumen anak menyusut, produsen memiliki insentif untuk memperluas pasar dengan menyasar kelompok usia dewasa yang memiliki daya beli sendiri.
“ Kondisi demografis piramida terbalik di negara-negara maju memicu penurunan jumlah konsumen anak, yang berdampak pada hilangnya pasar utama bagi produsen mainan internasional,” jelas Gancar, dikutip DCNews, Selasa (20/10/2026).
Bagi industri, konsumen dewasa menawarkan peluang untuk mengembangkan produk koleksi, edisi terbatas, dan barang bertema karakter yang memiliki nilai emosional bagi pembelinya. Bagi konsumen, produk tersebut tidak selalu sekadar mainan, tetapi juga dapat menjadi sarana nostalgia, ekspresi identitas, dan bagian dari komunitas dengan minat serupa.
Meski demikian, meningkatnya minat terhadap produk koleksi tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya masalah keuangan. Risiko muncul ketika keputusan pembelian tidak lagi mempertimbangkan anggaran, prioritas kebutuhan, dan konsekuensi jangka panjang.
Mengapa Orang Dewasa Gemar Membeli Mainan?
Salah satu faktor yang dapat menjelaskan perilaku tersebut adalah kebutuhan memperoleh kesenangan di tengah tekanan pekerjaan dan ketidakpastian ekonomi. Setelah menjalani rutinitas yang melelahkan, sebagian orang mencari aktivitas yang memberikan kepuasan emosional secara cepat.
Dalam konteks ini, istilah self-reward sering digunakan untuk membenarkan pembelian barang yang dianggap sebagai hadiah atas kerja keras. Mainan koleksi dan produk nostalgia dapat memberikan pengalaman menyenangkan, terutama bagi konsumen yang memiliki keterikatan emosional dengan karakter atau permainan tertentu sejak kecil.
“Para konsumen kerap berdalih memberikan self-reward agar bisa tetap bahagia di tengah gempuran rutinitas harian, mengingat aktivitas padat menjadi sumber stres yang berpotensi mengganggu kesehatan mental mereka,” papar Gancar.
Dalam kajian perilaku konsumen, kecenderungan membeli barang berharga relatif terjangkau untuk memperoleh kenyamanan di tengah tekanan ekonomi kerap dikaitkan dengan lipstick effect. Namun, istilah tersebut tidak berarti seluruh pembelian barang hiburan otomatis termasuk fenomena yang sama. Motif pembelian, kondisi ekonomi, dan jenis produk tetap perlu diperhatikan.
Persoalannya bukan semata-mata pada keputusan membeli mainan, melainkan pada kemampuan mengendalikan frekuensi dan nilai transaksi. Pembelian yang awalnya sesekali dapat menjadi beban ketika dilakukan berulang kali tanpa memperhitungkan akumulasi pengeluaran bulanan.
Pengeluaran Hobi dan Risiko Krisis Finansial
Gancar menyebut pengeluaran untuk hobi di kalangan orang dewasa Indonesia dapat mencapai Rp500.000 hingga Rp1 juta per bulan. Jika berlangsung secara konsisten, nominal tersebut perlu diperhitungkan sebagai bagian dari anggaran rumah tangga, bukan diperlakukan sebagai pengeluaran kecil yang tidak berdampak signifikan.
Sebagai ilustrasi, pengeluaran Rp1 juta per bulan berarti Rp12 juta dalam setahun. Angka tersebut belum memperhitungkan pembelian tambahan, kenaikan harga barang koleksi, maupun biaya lain yang menyertai hobi.
Pengeluaran itu tidak otomatis bermasalah jika telah dialokasikan secara wajar dan tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan pokok. Sebaliknya, risiko meningkat ketika pembelian dilakukan dengan mengorbankan dana darurat, menunda pembayaran kewajiban, atau menggunakan utang konsumtif.
Kebiasaan mengoleksi barang juga perlu dipisahkan dari keputusan investasi. Sebagian produk koleksi mungkin mengalami kenaikan harga di pasar sekunder, tetapi nilainya tidak selalu meningkat dan tidak menjamin barang mudah dijual kembali. Karena itu, konsumen sebaiknya tidak menganggap semua mainan koleksi sebagai aset yang pasti menguntungkan.
Pendekatan yang lebih realistis adalah menilai pembelian berdasarkan manfaat yang benar-benar dirasakan, kemampuan membayar, dan dampaknya terhadap kondisi keuangan. Dengan begitu, hobi tetap dapat dinikmati tanpa dibebani harapan keuntungan yang belum tentu terwujud.
Cara Mengatur Keuangan agar Hobi Tidak Berujung Pinjol
Pengendalian pengeluaran menjadi langkah penting agar minat terhadap mainan dan barang koleksi tidak berkembang menjadi masalah keuangan. Konsumen tidak harus meninggalkan hobinya, tetapi perlu menetapkan batas yang sesuai dengan pendapatan dan tanggung jawab masing-masing.
Ada beberapa langkah yang dapat diterapkan.
Pertama, tetapkan anggaran khusus untuk hobi. Tentukan nominal bulanan setelah kebutuhan pokok, tagihan rutin, tabungan, dan kewajiban lainnya terpenuhi. Jika anggaran habis, tunda pembelian berikutnya hingga periode anggaran baru.
Kedua, catat setiap transaksi. Pembelian kecil yang dilakukan berulang kali dapat menghasilkan total pengeluaran yang besar. Pencatatan arus kas membantu konsumen mengetahui apakah belanja hobi masih berada dalam batas yang direncanakan.
Ketiga, bedakan keinginan dan kebutuhan emosional. Keinginan membeli barang baru tidak selalu harus dipenuhi saat itu juga. Memberi jeda sebelum bertransaksi dapat membantu konsumen menilai kembali urgensi pembelian dan mengurangi keputusan impulsif.
Keempat, hindari penggunaan pinjaman untuk membiayai hobi. Dana pinjaman, termasuk pinjaman online, membawa kewajiban pembayaran yang dapat menekan arus kas pada bulan-bulan berikutnya. Barang koleksi sebaiknya dibeli menggunakan dana yang memang tersedia setelah kebutuhan dan kewajiban utama terpenuhi.
Kelima, lindungi dana darurat. Tabungan untuk menghadapi kehilangan pendapatan, kebutuhan medis, atau pengeluaran mendesak tidak semestinya dialihkan untuk memenuhi keinginan membeli barang koleksi.
Langkah-langkah tersebut membantu menempatkan hobi sebagai bagian dari perencanaan keuangan, bukan sumber tekanan baru. Pengelolaan yang disiplin juga memungkinkan konsumen menikmati manfaat emosional dari aktivitas yang disukai tanpa mengabaikan kebutuhan jangka panjang.
Menjaga Kesehatan Mental Tanpa Mengorbankan Keuangan
Menikmati hobi dan menjaga kesehatan mental bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Tantangannya adalah menemukan cara memperoleh kepuasan emosional yang sesuai dengan kemampuan finansial.
Membatasi belanja tidak selalu berarti menghilangkan kesenangan. Konsumen dapat menikmati koleksi yang sudah dimiliki, mengikuti komunitas penggemar, bertukar barang, atau menetapkan prioritas terhadap produk yang benar-benar diinginkan. Pilihan tersebut memungkinkan hobi tetap berjalan tanpa harus mengikuti setiap tren atau membeli setiap produk baru.
Gancar menekankan pentingnya menyeimbangkan kebutuhan menjaga kesehatan mental dengan perencanaan keuangan yang matang.
“Menjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian ekonomi memang penting, namun harus dibarengi penganggaran yang matang agar tidak menjebak diri dalam jeratan pinjol dan perilaku mubazir,” tegas Gancar.
Pertumbuhan kidult economy memperlihatkan bahwa pasar mainan tidak lagi terbatas pada anak-anak. Bagi industri, perubahan tersebut menciptakan peluang komersial. Bagi konsumen dewasa, tren ini dapat menjadi ruang untuk menikmati nostalgia dan mengekspresikan minat pribadi.
Namun, ukuran keberhasilan menikmati hobi bukan terletak pada banyaknya barang yang berhasil dikumpulkan. Kemampuan menjaga pengeluaran tetap terkendali menjadi penentu agar kesenangan hari ini tidak berubah menjadi beban finansial pada masa mendatang. ***

