DCNews, Jakarta — Harga emas Antam di Pegadaian kembali terkoreksi pada Kamis (27/8/2026), setelah tekanan di pasar emas global meningkat menyusul data inflasi Amerika Serikat yang memperkuat perhatian investor terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Berdasarkan data Pegadaian yang diperbarui Kamis, harga emas Antam ukuran 1 gram turun Rp18.000 menjadi Rp2.792.000 per gram, dari perdagangan sebelumnya Rp2.810.000.
Penurunan juga terjadi pada harga pembelian kembali atau buyback. Untuk emas Antam 1 gram, harga buyback turun Rp20.000 menjadi Rp2.541.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.561.000.
Koreksi harga domestik tersebut berlangsung ketika harga emas dunia turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (26/8). Harga emas spot sempat berada di sekitar US$4.595,93 per troy ounce setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan.
Harga Emas Antam Berbagai Ukuran di Pegadaian
Penurunan harga juga terjadi pada pecahan emas Antam lainnya. Untuk ukuran 0,5 gram, harga jual turun Rp9.000 menjadi Rp1.447.000. Harga buyback-nya turun Rp10.000 menjadi Rp1.270.000.
Pada ukuran 2 gram, harga jual turun Rp37.000 menjadi Rp5.522.000, sedangkan harga buyback turun Rp41.000 menjadi Rp5.082.000.
Emas Antam ukuran 3 gram dipatok Rp8.258.000, turun Rp54.000. Harga buyback turun Rp61.000 menjadi Rp7.624.000.
Sementara itu, harga emas Antam ukuran 5 gram turun Rp92.000 menjadi Rp13.728.000. Harga buyback turun Rp101.000 menjadi Rp12.707.000.
Rincian Harga Emas Antam di Pegadaian, Kamis 27 Agustus 2026
| Ukuran | Harga Jual | Harga Buyback |
|---|---|---|
| 0,5 gram | Rp1.447.000 | Rp1.270.000 |
| 1 gram | Rp2.792.000 | Rp2.541.000 |
| 2 gram | Rp5.522.000 | Rp5.082.000 |
| 3 gram | Rp8.258.000 | Rp7.624.000 |
| 5 gram | Rp13.728.000 | Rp12.707.000 |
| 10 gram | Rp27.400.000 | Rp25.414.000 |
| 25 gram | Rp68.373.000 | Rp63.223.000 |
| 50 gram | Rp136.665.000 | Rp126.447.000 |
| 100 gram | Rp273.251.000 | Rp252.895.000 |
Inflasi AS Jadi Perhatian Investor Emas
Pergerakan emas global kali ini tidak terlepas dari data ekonomi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi yang menjadi perhatian utama Federal Reserve, naik 0,2 persen pada Juli secara bulanan.
Secara tahunan, inflasi PCE mencapai 3,7 persen. Angka tersebut lebih tinggi daripada perkiraan pasar sebesar 3,6 persen. Sementara PCE inti, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 3,3 persen secara tahunan.
Data tersebut membuat investor kembali menghitung peluang perubahan kebijakan suku bunga The Fed. Ekspektasi suku bunga menjadi salah satu faktor penting bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Ketika ekspektasi suku bunga meningkat, aset berbasis dolar dan instrumen berimbal hasil dapat menjadi lebih menarik dibandingkan emas. Sebaliknya, prospek pelonggaran moneter biasanya memberikan dukungan terhadap harga emas.
Pada perdagangan Rabu, harga emas turun menuju level US$4.600 per troy ounce setelah sebelumnya mencatat kenaikan selama tiga sesi berturut-turut. Investor juga mencermati penguatan dolar AS dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Di sisi lain, data ekonomi AS belum sepenuhnya menunjukkan pelemahan. Biro Analisis Ekonomi AS mencatat pendapatan pribadi naik 0,4 persen pada Juli, sementara pengeluaran konsumsi pribadi meningkat 0,2 persen.
Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan aktivitas konsumsi yang relatif bertahan membuat pasar semakin berhati-hati dalam memperkirakan langkah bank sentral AS.
Analisis Dahlan Consultant: Koreksi Bukan Alasan untuk Panik
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, menilai koreksi harga emas perlu dibaca secara proporsional, terutama karena pergerakan emas saat ini masih sangat dipengaruhi sentimen global, ekspektasi suku bunga, nilai tukar dolar AS, dan ketidakpastian ekonomi.
Menurut Kang Dahlan –sapaan akrab Ketua Yayasan Hijrah Financial Indonesia, investor jangka panjang tidak seharusnya menjadikan penurunan satu hari sebagai dasar untuk mengambil keputusan secara emosional. Strategi akumulasi secara bertahap dinilai lebih rasional dibandingkan mencoba menebak titik harga terendah.
Pandangan tersebut sejalan dengan analisis Kang Dahlan sebelumnya bahwa koreksi harga emas setelah reli merupakan kondisi yang wajar di tengah volatilitas pasar. Ia juga mendorong investor menggunakan strategi pembelian berkala atau dollar cost averaging serta tidak menempatkan seluruh dana pada emas.
Ia juga mengingatkan investor untuk memperhatikan spread antara harga jual dan buyback. Selisih tersebut membuat emas lebih tepat dipandang sebagai instrumen penyimpan nilai untuk jangka menengah dan panjang, bukan sarana mengejar keuntungan cepat.
Dengan kondisi pasar yang masih sensitif terhadap data inflasi dan kebijakan The Fed, investor dinilai perlu menjaga likuiditas dan menyesuaikan pembelia emas dengan tujuan keuangan serta kemampuan masing-masing. Koreksi harga dapat menjadi peluang akumulasi, tetapi keputusan membeli tetap sebaiknya dilakukan secara bertahap dan terukur, bukan karena fear of missing out (FOMO). ***

