DCNews, Teheran — Iran dan Oman mencapai kesepakatan mengenai pembagian wilayah perairan serta pendapatan dari Selat Hormuz, sebuah jalur strategis yang menjadi salah satu pintu utama perdagangan energi dunia. Kesepakatan itu disebut sebagai bagian dari upaya kedua negara menyusun pengaturan lebih luas untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan kesepakatan tersebut telah menghasilkan pembagian wilayah perairan selat untuk masing-masing negara sekaligus mekanisme pembagian pendapatan antara Iran dan Oman.
“Kesepakatan telah dicapai mengenai pembagian wilayah perairan selat bagi masing-masing negara serta pembagian pendapatan selat tersebut antara Iran dan Oman,” kata IRGC dalam pernyataan yang dikutip kantor berita pemerintah Iran, Sepah News, Rabu (26/8/2026).
IRGC menyebut hasil pembicaraan itu dapat diterima oleh kedua pihak.
“Kami telah mencapai hasil yang dapat diterima oleh kedua belah pihak,” demikian pernyataan tersebut.
Namun, pengumuman IRGC itu belum sepenuhnya sejalan dengan pernyataan resmi Iran dan Oman sehari sebelumnya. Dalam pernyataan bersama pada Selasa, kementerian luar negeri kedua negara hanya menyebut telah membahas “kerangka kerja sementara” untuk memulihkan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz.
Pernyataan bersama tersebut belum menyebut adanya kesepakatan final mengenai pembagian pendapatan atau biaya yang berkaitan dengan pengelolaan jalur perairan strategis itu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga belum mengonfirmasi pengumuman terbaru dari IRGC. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Oman belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Jalur Vital Perdagangan Energi Dunia
Selat Hormuz memiliki arti strategis bagi pasar energi global. Sebelum mengalami gangguan, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melintasi jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.
Sebagian besar lalu lintas melalui Selat Hormuz dilaporkan tetap terhenti sejak Maret setelah Iran memblokade jalur tersebut menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang, menurut laporan tersebut, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Situasi itu menempatkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan hubungan Iran dan Oman, tetapi juga dengan stabilitas perdagangan energi internasional.
Pembahasan mengenai kerangka pengelolaan selat karena itu menjadi langkah penting bagi upaya mengembalikan pelayaran. Bagi Iran dan Oman, kesepakatan pembagian wilayah serta pendapatan dapat menjadi bagian dari mekanisme bilateral yang lebih luas untuk mengatur aktivitas di jalur strategis tersebut.
Meski demikian, belum terdapat konfirmasi resmi dari kedua pemerintah mengenai rincian mekanisme pembagian pendapatan yang diumumkan IRGC maupun apakah kesepakatan tersebut telah memperoleh status final secara diplomatik.***

