DCNews, Jakarta — Harga emas Antam di Pegadaian pada Sabtu (1/8/2026) masih bertahan di level tinggi, meski pasar emas global sedang bergerak dalam fase konsolidasi. Kondisi tersebut membuat logam mulia tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati masyarakat, baik untuk tujuan lindung nilai (hedging) maupun investasi jangka panjang.
Berdasarkan daftar harga resmi Pegadaian, emas Antam ukuran 1 gram dijual Rp2.728.000, sementara harga buyback atau pembelian kembali berada di level Rp2.426.000 per gram. Selisih antara harga jual dan buyback masih menjadi faktor yang perlu diperhitungkan investor, terutama bagi mereka yang berorientasi pada investasi jangka pendek.
Untuk ukuran 0,5 gram, harga jual dipatok Rp1.417.000 dengan harga buyback Rp1.213.000. Sementara emas Antam ukuran 2 gram dijual Rp5.394.000 dan memiliki harga buyback Rp4.853.000.
Adapun emas ukuran 5 gram dipasarkan seharga Rp13.406.000 dengan harga buyback Rp12.132.000. Sedangkan emas Antam 10 gram dibanderol Rp26.754.000 dan dapat dijual kembali kepada Pegadaian dengan harga Rp24.265.000.
Bagi investor yang memilih kepemilikan dalam jumlah besar, emas Antam ukuran 50 gram dijual Rp133.427.000 dengan harga buyback Rp120.730.000. Sementara ukuran 100 gram dipasarkan Rp266.773.000 dengan harga buyback mencapai Rp241.460.000.
Daftar Harga Emas Antam Pegadaian 1 Agustus 2026
| Berat | Harga Jual | Harga Buyback |
|---|---|---|
| 0,5 gram | Rp1.417.000 | Rp1.213.000 |
| 1 gram | Rp2.728.000 | Rp2.426.000 |
| 2 gram | Rp5.394.000 | Rp4.853.000 |
| 5 gram | Rp13.406.000 | Rp12.132.000 |
| 10 gram | Rp26.754.000 | Rp24.265.000 |
| 50 gram | Rp133.427.000 | Rp120.730.000 |
| 100 gram | Rp266.773.000 | Rp241.460.000 |
Harga Emas Dunia Masih Bergerak Konsolidatif
Di pasar internasional, harga emas masih berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami koreksi dari level tertingginya pada awal 2026. Tekanan terhadap harga logam mulia dipengaruhi oleh tingginya imbal hasil riil (real yield) serta ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang kepemilikan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga. Meski demikian, pelemahan harga belum mengganggu kinerja fundamental perusahaan-perusahaan tambang emas dunia.
Laporan industri menunjukkan rata-rata harga emas sepanjang kuartal II-2026 masih berada di atas US$4.400 per ons troi. Level tersebut dinilai tetap memberikan margin keuntungan yang besar bagi produsen emas sehingga mampu menghasilkan arus kas yang kuat.
Bank of America juga masih mempertahankan pandangan positif terhadap saham-saham perusahaan tambang emas meskipun menurunkan proyeksi harga emas sepanjang 2026. Menurut lembaga tersebut, kekuatan sektor pertambangan saat ini lebih didorong oleh fundamental bisnis dan efisiensi operasional dibandingkan semata-mata kenaikan harga komoditas.
Salah satu perusahaan yang mencatatkan kinerja menonjol adalah Agnico Eagle yang membukukan arus kas bebas sebesar US$1,335 miliar pada kuartal II-2026. Perusahaan itu juga mengembalikan sekitar US$625 juta kepada pemegang saham sekaligus melanjutkan pengembangan sejumlah proyek strategis guna menopang pertumbuhan produksi dalam jangka panjang.
Analisis Dahlan Consultant: Emas Tetap Layak untuk Investor Jangka Panjang
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, menilai harga emas yang masih bertahan di level tinggi menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset safe haven belum surut meskipun pasar global menghadapi ketidakpastian akibat kebijakan suku bunga tinggi.
Menurut Kang Dahlan, yang juga Ketua Yayasan Hijrah Financial Indonesia itu, investor sebaiknya tidak hanya terpaku pada fluktuasi harga harian, melainkan fokus pada tujuan investasi jangka panjang. Emas dinilai tetap efektif sebagai instrumen diversifikasi portofolio dan pelindung nilai terhadap inflasi maupun gejolak ekonomi.
“Selama ketidakpastian ekonomi global masih berlangsung, emas tetap memiliki prospek yang baik sebagai aset lindung nilai. Namun investor perlu memperhatikan selisih harga jual dan buyback agar tidak terburu-buru melakukan transaksi dalam jangka pendek,” ujar Kang Dahlan.
Ia menambahkan, strategi pembelian secara bertahap (dollar cost averaging) lebih bijak dibandingkan mengejar momentum kenaikan harga sesaat. Dengan cara tersebut, investor dapat memperoleh rata-rata harga yang lebih stabil sekaligus mengurangi risiko akibat volatilitas pasar. ***

