DCNews, Jakarta – Tekanan ekonomi yang semakin berat mulai berdampak pada kehidupan rumah tangga aparatur sipil negara (ASN) di Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatat rata-rata 20 hingga 25 pengajuan perceraian ASN setiap pekan, dengan persoalan keuangan, terutama jeratan pinjaman online (pinjol), menjadi salah satu faktor yang paling sering ditemukan.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkuat layanan pendampingan keluarga dan konsultasi keuangan bagi ASN sebagai upaya menekan angka perceraian sekaligus menjaga kesehatan mental serta produktivitas aparatur negara.
Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Timur, Indah Wahyuni, mengatakan puluhan permohonan perceraian rutin masuk ke BKD untuk diproses setiap pekan.
“Untuk jumlah konsultasi (pengajuan perceraian), perkiraannya sekitar 20 hingga 25 orang. Namun angka tersebut masih perlu saya pastikan lagi,” kata Indah, dikutip DCNews, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Indah, mayoritas ASN yang mengajukan perceraian berasal dari sektor pendidikan dan kesehatan. Hal itu tidak terlepas dari besarnya jumlah pegawai di dua sektor tersebut dibandingkan organisasi perangkat daerah lainnya di lingkungan Pemprov Jawa Timur.
“ASN di lingkungan Pemprov Jatim yang jumlahnya paling banyak adalah guru dan tenaga kesehatan, sehingga mayoritas berasal dari Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan,” ujarnya.
Tekanan Ekonomi dan Pinjol Memperburuk Kondisi Rumah Tangga
Indah, yang akrab disapa Yuyun, menjelaskan bahwa persoalan ekonomi masih menjadi penyebab dominan keretakan rumah tangga ASN. Dalam beberapa waktu terakhir, BKD juga menemukan semakin banyak ASN yang terjerat pinjaman online.
Meski belum memiliki data pasti mengenai jumlah ASN yang terlilit pinjol, fenomena tersebut dinilai cukup mengkhawatirkan karena tidak hanya memengaruhi kondisi keuangan keluarga, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental para pegawai.
“Saat ini juga cukup banyak ASN yang terjerat pinjaman online (pinjol). Terkait jumlah ASN yang terjerat pinjol, saya kurang mengetahui data pastinya. Yang saya harapkan, dengan adanya program ini jumlahnya bisa semakin kecil,” katanya.
Hasil koordinasi BKD dengan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya menunjukkan bahwa sejumlah ASN bahkan harus menjalani konsultasi hingga perawatan psikologis setelah mengalami tekanan berat akibat teror penagih utang pinjaman online.
“Berdasarkan koordinasi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya, ditemukan adanya oknum ASN yang terpaksa melakukan konsultasi dan perawatan akibat mengalami gangguan psikologis. Mereka mengalami ketidaktenangan jiwa yang ekstrem pasca mendapat teror dari penagih utang (debt collector) pinjol,” ungkap Indah.
Pemprov Luncurkan Pelita ASN untuk Pendampingan Keluarga
Merespons meningkatnya persoalan rumah tangga ASN, BKD Jawa Timur bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) meluncurkan aplikasi Pelita ASN (Pendamping Keluarga Terintegrasi ASN).
Aplikasi tersebut dirancang sebagai layanan konsultasi terpadu bagi ASN yang menghadapi persoalan pribadi, konflik rumah tangga, hingga pengasuhan anak. Pemerintah berharap layanan ini dapat menjadi ruang pendampingan sebelum persoalan berkembang menjadi konflik yang lebih serius.
“Melalui aplikasi ini, apabila ASN mengalami persoalan, baik yang berkaitan dengan dirinya sendiri, keluarga, maupun anak-anaknya, mereka dapat berkonsultasi,” ujar Indah.
Selain layanan psikologis dan pendampingan keluarga, BKD juga menggandeng Bank Jatim untuk memberikan edukasi literasi keuangan kepada ASN. Program tersebut mencakup pendampingan pengelolaan keuangan, perencanaan finansial, serta informasi mengenai alternatif pembiayaan dengan bunga yang lebih kompetitif agar ASN tidak terjebak pinjaman online ilegal maupun berbunga tinggi.
Indah menegaskan bahwa persoalan keluarga yang tidak tertangani akan berdampak langsung terhadap kinerja ASN. Karena itu, kehadiran Pelita ASN diharapkan mampu membantu pegawai menyelesaikan masalah pribadi sehingga tetap dapat memberikan pelayanan publik secara optimal.
“Jika ASN memiliki banyak persoalan, tentu akan berdampak pada kinerjanya sehingga tidak optimal. Dengan adanya Pelita ASN, kami berharap ASN dapat bekerja lebih tenang sehingga kinerjanya juga menjadi lebih optimal,” tuturnya. ***

