DCNews, Jakarta — Harga emas batangan kembali menguat pada perdagangan Selasa pagi (9/6), mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan. Data yang dihimpun dari platform Sahabat Pegadaian menunjukkan harga emas Antam naik menjadi Rp2.853.000 per gram, sementara Galeri24 menguat ke Rp2.734.000 per gram. Berbeda dengan dua produk tersebut, emas UBS justru mengalami koreksi tipis menjadi Rp2.757.000 per gram.
Kenaikan harga emas terjadi setelah logam mulia tersebut terus menjadi pilihan utama investor yang mencari perlindungan terhadap risiko inflasi, gejolak geopolitik, serta potensi perlambatan ekonomi di sejumlah negara.
Dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya, harga emas Antam naik Rp5.000 per gram dari Rp2.848.000 menjadi Rp2.853.000. Galeri24 juga mencatat kenaikan Rp5.000 per gram dari Rp2.729.000 menjadi Rp2.734.000. Sementara itu, UBS turun Rp2.000 per gram dari Rp2.759.000 menjadi Rp2.757.000.
Pegadaian menyediakan berbagai pilihan ukuran emas untuk memenuhi kebutuhan investor ritel maupun institusi. Produk Galeri24 tersedia mulai dari 0,5 gram hingga 1 kilogram. Emas UBS dipasarkan dalam ukuran 0,5 gram hingga 500 gram, sedangkan emas Antam yang tersedia di Pegadaian mencapai ukuran maksimal 100 gram.
Untuk ukuran 0,5 gram, harga emas Antam tercatat Rp1.479.000, UBS Rp1.490.000, dan Galeri24 Rp1.434.000. Pada ukuran 10 gram, harga emas Antam mencapai Rp28.002.000, UBS Rp26.895.000, dan Galeri24 Rp26.739.000.
Pergerakan harga emas domestik masih mengikuti tren pasar global yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga bank sentral dunia, pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat, serta perkembangan ekonomi internasional. Kondisi tersebut membuat emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati masyarakat Indonesia, terutama saat volatilitas pasar meningkat.
Analisis Dahlan Consultant ;Emas Tetap Menjadi Pelindung Nilai di Tengah Tekanan Ekonomi
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, menilai kenaikan harga emas saat ini menunjukkan bahwa investor masih memandang logam mulia sebagai instrumen perlindungan kekayaan yang paling relevan ketika ketidakpastian ekonomi global meningkat.
Menurut pria yang akrab disapa Kang Dahlan itu, tren penguatan emas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti konflik geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global, tetapi juga oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk menjaga daya beli asetnya dari risiko inflasi dan pelemahan nilai mata uang.
“Ketika pasar saham dan instrumen berisiko mengalami tekanan, investor cenderung mengalihkan sebagian portofolionya ke emas. Instrumen ini memiliki karakteristik sebagai safe haven yang mampu menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang,” katanya.
Ia menambahkan bahwa investor sebaiknya tidak melihat emas semata sebagai sarana mencari keuntungan jangka pendek, melainkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio. Dalam kondisi ekonomi yang masih dibayangi ketidakpastian, kepemilikan emas dapat membantu menyeimbangkan risiko investasi secara keseluruhan.
Kang Dahlan juga mengingatkan masyarakat untuk tetap memperhatikan tujuan investasi, kemampuan finansial, dan horizon waktu sebelum membeli emas. Menurutnya, strategi akumulasi secara bertahap atau dollar cost averaging lebih bijak dibandingkan melakukan pembelian dalam jumlah besar pada satu waktu ketika harga sedang bergerak tinggi.
“Emas tetap menarik sebagai instrumen pelindung nilai. Namun investor harus disiplin dan menempatkannya sebagai bagian dari perencanaan keuangan yang terukur, bukan sekadar mengikuti tren kenaikan harga sesaat,” ujarnya. ***

