DCNews, Jakarta — Pergerakan pasar global pada Selasa, 26 Mei 2026, masih dibayangi perkembangan geopolitik Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko seperti saham teknologi, sementara harga emas dan minyak bergerak fluktuatif akibat meredanya kekhawatiran inflasi energi global.
Di pasar komoditas, harga emas dunia (Gold) bergerak melemah tipis setelah sebelumnya sempat reli lebih dari 1 persen. Emas spot diperdagangkan di kisaran US$4.538 per troy ounce pada perdagangan pagi ini, tertekan oleh ekspektasi membaiknya jalur diplomasi AS-Iran dan penurunan harga minyak mentah global.
Sementara itu, harga minyak mentah (Oil) cenderung volatil. Kontrak WTI berada di area US$91-92 per barel, sedangkan Brent diperdagangkan mendekati US$95-97 per barel. Pasar energi merespons potensi pembukaan kembali jalur Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi titik ketegangan utama distribusi minyak dunia.
Di pasar valuta asing, pasangan EUR/USD menguat terbatas seiring melemahnya indeks dolar AS. Investor mulai mengurangi posisi safe haven dolar setelah muncul optimisme negosiasi geopolitik dan turunnya tekanan inflasi energi. Sentimen serupa juga menopang penguatan GBP/USD terhadap dolar AS dalam perdagangan Asia pagi ini.
Untuk USD/JPY, yen Jepang masih bergerak defensif meski dolar AS kehilangan sebagian momentumnya. Pelaku pasar tetap mencermati arah kebijakan Bank of Japan dan pergerakan imbal hasil obligasi AS yang mulai melanda.
Dari pasar saham, indeks Nasdaq kembali menunjukkan ketahanan berkat reli saham teknologi dan sektor kecerdasan buatan (AI). Optimisme terhadap kinerja emiten teknologi besar masih menjadi pendorong utama Wall Street, meski investor tetap waspada terhadap arah suku bunga Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang.
Analisis Dahlan Consultant: Pasar Masih Sangat Sensitif terhadap Geopolitik
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan yang akrab disapa Kang Dahlan, menilai pasar global saat ini berada dalam fase “wait and see” terhadap perkembangan diplomasi Timur Tengah dan arah kebijakan moneter AS.
Menurutnya, penurunan harga minyak dan stabilisasi emas menunjukkan investor mulai percaya risiko perang besar dapat ditekan, namun volatilitas masih berpotensi tinggi apabila negosiasi kembali mengalami kebuntuan.
“Pasar sedang bergerak sangat emosional. Begitu ada sinyal damai, saham langsung menguat dan emas terkoreksi. Tetapi jika tensi geopolitik kembali meningkat, investor bisa langsung kembali ke aset safe haven,” ujar Kang Dahlan.
Ia menambahkan, Nasdaq masih memiliki ruang penguatan karena sektor teknologi dan AI tetap menjadi magnet utama investor global. Namun, ia mengingatkan pelaku pasar untuk tetap disiplin mengelola risiko karena arah kebijakan suku bunga The Fed belum sepenuhnya pasti.
Strategi Investor Menjelang Semester II 2026
Kang Dahlan menyarankan investor menjaga diversifikasi portofolio dengan kombinasi aset defensif dan agresif. Menurut dia, emas masih layak menjadi lindung nilai jangka panjang, sementara saham teknologi tetap menarik untuk investor dengan profil risiko moderat hingga agresif.
“Semester II tahun 2026 kemungkinan masih dipenuhi volatilitas global. Investor jangan hanya mengejar momentum sesaat, tetapi harus fokus pada manajemen risiko dan kualitas aset,” kata Kang Dahlan. ***

