DCNews, Jakarta – Perdagangan pasar global pada Senin (4/5) menunjukkan pergerakan yang beragam, dengan minyak mentah mencatat kenaikan signifikan seiring ketegangan geopolitik di Timur Tengah, sementara emas tetap stabil di level tinggi. Di pasar mata uang, dolar AS bergerak bervariasi terhadap mata uang utama, dan Indeks Nasdaq mengalami penurunan ringan di awal perdagangan.
Harga emas dunia bergerak stabil di kisaran AS$4.615 per ons troi pada pukul 09.00 WIB hari ini, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi AS$4.660 dan terendah AS$4.560 dalam sesi sebelumnya. Kestabilan harga ini dipengaruhi oleh keseimbangan antara permintaan aset aman akibat ketegangan internasional dan harapan akan kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih belum pasti.
Di pasar dalam negeri, harga emas Antam tercatat tetap di level Rp2,908 juta per gram, sementara emas perhiasan juga tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan hari kerja terakhir sebelumnya.
Sementara itu, harga minyak mentah melonjak tajam. Minyak mentah jenis WTI diperdagangkan di level AS$112,2 per barel, naik sekitar 5,1% dibandingkan penutupan sebelumnya, sedangkan minyak mentah Brent berada di posisi AS$119,8 per barel, naik sekitar 4,8% .
Kenaikan ini dipicu oleh laporan pembajakan kapal tangki minyak di lepas pantai Yaman yang menuju Somalia, serta pernyataan militer AS yang menyatakan kesiapannya untuk mengevakuasi kapal yang terjebak di Selat Hormuz – jalur pengiriman minyak terpenting di dunia.
Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan minyak global, yang langsung mendorong kenaikan harga.
Di pasar mata uang, euro terhadap dolar AS (EURUSD) diperdagangkan di kisaran 1,1560, melemah sekitar 0,2% dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh data indikator ekonomi Zona Eropa yang kurang memuaskan, di mana indeks manajer pembelian (PMI) sektor jasa dan manufaktur berada di bawah perkiraan pasar. Sementara itu, poundsterling terhadap dolar AS (GBPUSD) berada di level 1,3452, turun sekitar 0,3%, seiring dengan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi Inggris yang melambat.
Sebaliknya, dolar AS terhadap yen Jepang (USDJPY) menguat hingga ke level 160,7, naik sekitar 0,5%. Penguatan ini terjadi karena perbedaan kebijakan moneter antara kedua negara – di mana Federal Reserve AS masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi, sementara Bank Jepang terus menerapkan kebijakan moneter yang longgar.
Indeks Nasdaq, yang banyak terdiri dari saham perusahaan teknologi, dibuka dengan penurunan 0,8% di level 21.790 poin. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran tentang dampak suku bunga tinggi yang berkelanjutan terhadap kinerja perusahaan teknologi, serta penurunan harga saham beberapa perusahaan besar setelah laporan pendapatan kuartalan yang kurang memuaskan.
Ketidakpastian Tinggi
Menurut konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant yang akrab disapa Kang Dahlan, pergerakan pasar hari ini mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi di berbagai sektor. Kenaikan harga minyak menunjukkan betapa rentannya pasar terhadap faktor geopolitik, dan hal ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi kembali di berbagai negara.
Sementara itu, kestabilan emas menunjukkan bahwa masih banyak investor yang mencari perlindungan aset. Di pasar mata uang dan saham, pergerakan dipengaruhi oleh data ekonomi dan kebijakan moneter masing-masing negara.
“Bagi investor, disarankan untuk tetap berhati-hati, memantau perkembangan terbaru, dan menyesuaikan portofolio sesuai dengan toleransi risiko masing-masing,” ujar Kang Dahlan. ***

