DCNews, Jakarta— Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik dan maraknya pinjaman online ilegal, Adira Finance tetap mematok target pertumbuhan positif sepanjang 2026. Perusahaan pembiayaan ini menilai stabilitas ekonomi domestik yang dijaga pemerintah menjadi faktor kunci optimisme tersebut.
Wakil Direktur Utama Niko Kurniawan Bonggowarsito, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (3/5/2026) mengatakan, prospek bisnis perseroan didukung oleh kebijakan pemerintah dan otoritas yang berhasil menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, di balik optimisme itu, Adira Finance tetap mencermati berbagai risiko eksternal. Ketegangan di kawasan Timur Tengah dan dinamika global lainnya dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi, termasuk daya beli masyarakat dan kinerja sektor pembiayaan.
Sebagai langkah mitigasi, perusahaan mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan memperkuat empat pilar utama bisnisnya. Strategi ini dirancang untuk menjaga kualitas pembiayaan sekaligus memastikan keberlanjutan pertumbuhan di tengah tekanan eksternal.
Di sisi lain, industri multifinance juga menghadapi tantangan serius dari maraknya pinjaman online ilegal. Niko menilai fenomena ini tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga berpotensi menggerus kepercayaan terhadap industri pembiayaan formal.
Karena itu, Adira Finance mendorong penguatan kolaborasi antara pelaku industri dan pemerintah untuk menekan praktik pinjaman ilegal. Upaya ini perlu diimbangi dengan peningkatan literasi keuangan masyarakat agar lebih selektif dalam memilih layanan pembiayaan.
Perusahaan menegaskan telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menghadapi tantangan tersebut, termasuk memperkuat edukasi publik. Adira Finance juga berkomitmen menjaga kinerja bisnis sekaligus berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko pinjaman tidak resmi. ***

