DCNews, Jakarta – Pasar keuangan global mengalami pergerakan yang beragam pada akhir pekan ini (Minggu, 12 April 2026) didorong oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan sinyal kebijakan moneter dari bank sentral utama. Emas mencatat kenaikan signifikan sebagai aset aman, sementara harga minyak mentah anjlok tajam setelah kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Di pasar valuta asing, dolar AS mengalami tekanan, namun pasangan mata uang utama masih bergerak dalam rentang terbatas. Sementara itu, indeks saham teknologi Nasdaq kembali menguat seiring dengan optimisme terhadap prospek sektor teknologi.
Emas (XAU/USD)
Harga emas spot naik sebesar 2,39% atau 112,64 dolar AS menjadi 4.818,12 dolar AS per ons troi pada perdagangan hari ini. Kenaikan ini didorong oleh permintaan aset aman meskipun ketegangan di Timur Tengah mulai mereda setelah kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran.
Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS pada tahun 2026 juga memberikan dukungan terhadap harga emas, karena aset ini tidak memberikan bunga tetap. Secara teknikal, emas berada dalam tren naik jangka pendek dengan target potensial menuju level 4.870 dolar AS per ons, sementara dukungan terdekat berada di sekitar 4.670 dolar AS per ons.
Minyak Mentah (WTI)
Harga minyak mentah WTI anjlok sebesar 14,8% atau 16,72 dolar AS menjadi 96,23 dolar AS per barel. Penurunan tajam ini terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran yang mengurangi kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari wilayah tersebut.
Selain itu, data stok minyak mentah AS yang meningkat selama tujuh minggu berturut-turut juga memberikan tekanan terhadap harga minyak. Meskipun demikian, fundamental pasar minyak masih tetap ketat karena permintaan global yang tetap kuat dan produksi yang terbatas.
Valuta Asing
EUR/USD
Pasangan mata uang EUR/USD naik sedikit menuju level 1,1700 meskipun kemudian mengalami penurunan sedikit selama sesi perdagangan. Kenaikan euro didorong oleh pelemahan dolar AS dan data ekonomi Eropa yang lebih baik dari perkiraan, terutama data perdagangan Jerman.
Namun, tekanan masih tetap ada karena perbedaan kebijakan moneter antara Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa (ECB). Secara teknikal, pasangan ini masih berada dalam saluran turun dengan resistensi terdekat di level 1,1660 dan dukungan di sekitar 1,1395-1,1396.
GBP/USD
GBP/USD masih berada di bawah tekanan jual dan bergerak di sekitar level 1,3190. Pasangan ini terbebani oleh permintaan aset aman terhadap dolar AS dan ketidakpastian ekonomi Inggris. Meskipun demikian, terdapat tanda-tanda divergensi bullish yang menunjukkan bahwa tekanan jual mungkin mulai melemah. Dukungan terdekat berada di level 1,3117 dan 1,2961, sementara resistensi berada di 1,3298 dan 1,3414.
USD/JPY
USD/JPY naik sedikit menuju level 159,55 meskipun kemudian mengalami penurunan sedikit. Kenaikan dolar AS terhadap yen didorong oleh perbedaan kebijakan moneter antara Federal Reserve AS dan Bank of Japan (BOJ). Meskipun data ekonomi Jepang menunjukkan pertumbuhan yang stabil, yen masih tetap lemah karena kebijakan moneter yang akomodatif dari BOJ. Dukungan terdekat berada di level 156,40 dan 151,20, sementara resistensi berada di 159,50 dan 160,70.
Nasdaq
Indeks saham teknologi Nasdaq menguat sebesar sekitar 2-3% pada perdagangan hari ini dan mencapai level tertinggi sejak awal Maret 2026. Kenaikan ini didorong oleh optimisme terhadap prospek sektor teknologi, terutama perusahaan-perusahaan besar yang tercatat di indeks ini. Selain itu, pelemahan dolar AS juga memberikan dukungan terhadap saham-saham ekspor.
Analisis Kesimpulan Dahlan Consultant
Berdasarkan analisis dari konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, pergerakan pasar keuangan global saat ini sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu perkembangan geopolitik dan sinyal kebijakan moneter dari bank sentral utama.
Emas masih menjadi pilihan yang menarik sebagai aset aman dan lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi, meskipun volatilitas mungkin masih akan terjadi dalam waktu dekat. Sementara itu, harga minyak mentah kemungkinan akan tetap bergejolak seiring dengan perkembangan situasi di Timur Tengah dan perubahan permintaan global.
Di pasar valuta asing, pria yang akrab disapa Kang Dahlan itu menganalisis, dolar AS mungkin akan tetap mengalami tekanan dalam jangka menengah karena ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve, namun pergerakan pasangan mata uang utama masih akan dipengaruhi oleh data ekonomi dan perbedaan kebijakan moneter. Untuk pasar saham, terutama sektor teknologi, prospek masih tetap positif seiring dengan inovasi dan pertumbuhan bisnis yang terus berlanjut, namun investor tetap perlu waspada terhadap risiko volatilitas dan koreksi pasar.
“Secara keseluruhan, strategi investasi yang bijak adalah dengan melakukan diversifikasi portofolio, memantau perkembangan pasar secara terus-menerus, dan mengambil keputusan berdasarkan analisis yang mendalam dan tidak hanya berdasarkan emosi, demikian Kang Dahlan. ***

