DCNews, Jakarta — Menjelang puncak kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah, pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional berada dalam kondisi aman dengan harga yang relatif stabil, ditopang oleh surplus produksi dan penguatan cadangan strategis.
Dalam konteks meningkatnya konsumsi saat hari besar keagamaan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi lonjakan permintaan melalui sinergi kebijakan dari hulu hingga hilir, mulai dari peningkatan produksi hingga pengawasan distribusi dan stabilisasi harga di pasar.
“Kita ingin semua tersenyum. Petani tersenyum karena harga hasil panennya baik, pedagang tersenyum karena barang tersedia, dan masyarakat tersenyum karena harga terjangkau,” ujar Amran dalam keterangannya, Senin (23/3/2026).
Ia mengungkapkan, posisi stok beras nasional saat ini tergolong kuat. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang tersimpan di Perum Bulog mencapai sekitar 4,09 juta ton, sementara beras yang beredar di masyarakat diperkirakan berkisar 11 hingga 12 juta ton. Dalam waktu dekat, potensi panen juga diproyeksikan menyumbang sekitar 12 juta ton tambahan.
Dengan demikian, total ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 28 juta ton—cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi hingga sekitar 11 bulan ke depan.
Amran menambahkan, tren produksi beras nasional terus menunjukkan peningkatan seiring berlangsungnya panen raya di berbagai wilayah sejak Februari hingga April 2026. Produksi bulanan yang berada di kisaran 2,6 juta hingga 5,7 juta ton dinilai telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang rata-rata mencapai 2,59 juta ton per bulan.
“Kondisi ini menempatkan neraca beras nasional dalam posisi surplus,” katanya.
Tidak hanya beras, sejumlah komoditas pangan strategis lainnya juga tercatat mengalami kelebihan pasokan hingga April 2026. Cabai rawit mencatat surplus sekitar 105 ribu ton, daging ayam sekitar 727 ribu ton, serta bawang merah sekitar 57 ribu ton.
Khusus untuk Maret, produksi cabai turut menunjukkan tren positif dengan surplus masing-masing sekitar 46.868 ton untuk cabai rawit merah dan 8.282 ton untuk cabai besar. Kondisi ini berdampak pada harga di pasar yang mulai stabil dan cenderung menurun.
“Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, harga akan stabil. Itu yang terus kita jaga dari hulu hingga hilir,” ujar Amran.
Ia menegaskan, pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan harga agar tidak merugikan petani sekaligus tetap terjangkau bagi konsumen. Menurutnya, stabilitas harga merupakan kunci utama dalam menjaga daya beli masyarakat tanpa mengorbankan kesejahteraan produsen.
“Harga tidak boleh terlalu tinggi, tetapi juga tidak boleh terlalu rendah. Keseimbangan itu yang harus dijaga,” tegasnya.
Pengawasan harga dilakukan secara terpadu lintas sektor guna mencegah praktik penimbunan dan spekulasi, terutama selama periode Ramadan hingga Idulfitri yang rawan gejolak harga.
Dengan kondisi stok yang kuat, produksi yang meningkat, serta harga yang terkendali, pemerintah menilai Idulfitri tahun ini menjadi momentum positif bagi seluruh pelaku dalam rantai pangan nasional—mulai dari petani, pedagang, hingga konsumen. ***

