Market Brief 22 Maret 2026: Minyak Melonjak, Nasdaq Tertekan, Emas Terkoreksi di Tengah Gejolak Global

Date:

DCNews, Jakarta— Pasar keuangan global memasuki akhir pekan dengan tekanan dan volatilitas tinggi, dipicu lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik serta meningkatnya kekhawatiran inflasi yang kembali membayangi kebijakan suku bunga bank sentral. Pergerakan ini mendorong investor beralih ke aset defensif, meski tidak merata di seluruh instrumen.

Di pasar komoditas, harga emas justru mengalami koreksi setelah sebelumnya menguat tajam. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menjadi faktor utama yang menekan logam mulia tersebut, mengurangi daya tariknya sebagai aset lindung nilai dalam jangka pendek. Meski demikian, prospek jangka panjang emas masih ditopang ketidakpastian global yang belum mereda.

Berbeda dengan emas, harga minyak mentah melonjak signifikan dan menjadi pendorong utama perubahan sentimen pasar. Kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah membuat harga bertahan di level tinggi, sekaligus memicu risiko inflasi global yang lebih luas. Lonjakan energi ini menjadi faktor kunci yang memengaruhi hampir seluruh kelas aset.

Di pasar valuta asing, pasangan EUR/USD menunjukkan penguatan terbatas, didukung pelemahan dolar namun tertahan oleh risiko ekonomi di Eropa akibat kenaikan harga energi. Sementara itu, GBP/USD bergerak cenderung datar dengan tekanan ringan, seiring sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan Bank of England.

Untuk USD/JPY, dolar AS masih mendominasi pergerakan dengan tren penguatan terhadap yen Jepang. Kebijakan moneter longgar Jepang menjadi faktor utama pelemahan yen, meski potensi penguatan sewaktu-waktu tetap terbuka jika sentimen risiko global memburuk.

Dari pasar saham, indeks Nasdaq mencatat tekanan paling signifikan di antara indeks utama. Saham-saham teknologi melemah akibat kenaikan yield obligasi dan meningkatnya kekhawatiran inflasi, yang membuat valuasi sektor ini menjadi kurang menarik di mata investor.

Kondisi Pasar Cerminan Fase “Risk-off”

Kondisi pasar saat ini mencerminkan fase “risk-off” yang dipicu kombinasi faktor geopolitik dan tekanan inflasi. Kenaikan harga minyak berpotensi menjadi pemicu utama perubahan arah kebijakan moneter global, yang pada akhirnya menekan pasar saham dan memperkuat dolar AS. Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dengan kecenderungan penguatan pada komoditas energi, sementara aset berisiko seperti saham—khususnya sektor teknologi—masih berada dalam tekanan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Video Viral Ojol Wanita Diduga Diintimidasi Debt Collector, Polisi Amankan Dua Motor di Tangsel

DCNews, Tangerang Selatan — Keributan antara pengemudi ojek online...

GP Al Washliyah DKI Tolak Aksi 27 Agustus di DPR, Ingatkan Risiko Provokasi dan Kerusuhan

DCNews, Jakarta — Rencana aksi unjuk rasa di Gedung DPR...

OJK Berlakukan Izin Usaha Asuransi Jasindo Setelah Perubahan Nama Perseroan

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberlakukan izin usaha...

Ahmad Sahroni Minta Polisi Usut Aksi Gesek Nomor Rangka Mobil Oleh Debt Collector di GBK

DCNews, Jakarta — Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad...