DCNews, Moscow — Bank Sentral Rusia melepas sebagian cadangan emasnya pada Januari 2026, memanfaatkan lonjakan harga global yang menembus rekor tertinggi. Langkah ini menandai penurunan pertama cadangan emas Moskow sejak Oktober tahun lalu dan dipandang sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan anggaran.
Data resmi yang dirilis Jumat (19/2/2026) waktu setempat menunjukkan cadangan emas batangan Rusia turun 300.000 troy ons menjadi 74,5 juta troy ons. Penjualan tersebut terjadi ketika harga emas dunia rata-rata mencapai sekitar US$4.700 per troy ons sepanjang Januari — level tertinggi sepanjang sejarah.
Dengan asumsi transaksi dilakukan pada harga pasar, pelepasan emas tersebut berpotensi menghasilkan sekitar US$1,4 miliar bagi kas negara. Otoritas moneter Rusia tidak merinci waktu maupun mekanisme transaksi, namun langkah ini mencerminkan fleksibilitas penggunaan cadangan emas sebagai instrumen likuiditas.
Sejak tahun lalu, bank sentral mulai memanfaatkan cadangan emasnya dalam skema yang dikenal sebagai “operasi cermin”, yang berkaitan dengan penjualan aset Dana Kesejahteraan Nasional Rusia oleh Kementerian Keuangan. Skema tersebut dirancang untuk menopang anggaran negara di tengah tekanan pendapatan.
Pada dua bulan pertama 2025, Kementerian Keuangan Rusia tercatat menghabiskan 419 miliar rubel (sekitar US$5,5 miliar) dari dana tersebut. Pemerintah menjual emas dan mata uang asing guna menutup penurunan pendapatan minyak dan gas, yang terdampak fluktuasi harga energi dan sanksi internasional.
Meski terjadi penurunan volume fisik, nilai total cadangan emas Rusia justru melonjak 23 persen pada Januari menjadi US$402,7 miliar. Kenaikan tersebut sepenuhnya didorong reli harga emas global, yang mengompensasi penjualan sebagian cadangan.
Sejak invasi besar-besaran Kremlin ke Ukraina pada 2022, emas menjadi salah satu bantalan utama stabilitas keuangan Rusia. Kenaikan nilai logam mulia itu disebut-sebut memberikan keuntungan yang secara nominal sebanding dengan aset mata uang asing Rusia yang dibekukan di Eropa akibat sanksi Barat. ***

