Dolar AS Tertekan, Gold Cetak Rekor Tertinggi Jelang Keputusan The Fed

Date:

DCNews, Jakarta — Pasar keuangan global bergerak volatil sepanjang sesi Eropa, Rabu (28/1/2026), di tengah kombinasi tekanan politik Amerika Serikat, ekspektasi kebijakan moneter yang semakin longgar, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Dolar AS kembali terpuruk ke level terendah dalam empat tahun terakhir, sementara harga emas melonjak tajam hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Pelemahan dolar AS kian menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa nilai tukar dolar berada dalam kondisi “baik-baik saja”, meskipun mata uang tersebut telah melemah tajam dalam beberapa hari terakhir. Pernyataan itu justru dibaca pasar sebagai sinyal bahwa pemerintah AS tidak melihat depresiasi dolar sebagai persoalan mendesak—sebuah persepsi yang mempercepat tekanan jual terhadap greenback.

Tekanan semakin dalam setelah Trump mengonfirmasi bahwa pengganti Gubernur Federal Reserve Jerome Powell akan menurunkan suku bunga lebih lanjut. Isyarat tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter yang lebih dovish, sekaligus memicu kembali kekhawatiran atas independensi bank sentral AS di tengah meningkatnya intervensi politik.

Dari sisi geopolitik, sentimen pasar juga belum menunjukkan perbaikan. Ancaman tarif baru yang kembali dilontarkan Trump terhadap Korea Selatan dan Kanada memperbesar ketegangan dagang dan menggerus kepercayaan investor terhadap aset-aset AS. Kombinasi risiko politik, moneter, dan geopolitik tersebut mendorong pelaku pasar beralih ke aset lindung nilai.

Fokus pasar pada sesi Amerika Serikat akan tertuju pada keputusan suku bunga The Fed yang diumumkan Kamis dini hari (02.00 WIB). Konsensus pasar memperkirakan suku bunga akan ditahan di level 3,75 persen. Namun, perhatian utama justru tertuju pada pernyataan Jerome Powell, khususnya terkait posisi independensi The Fed setelah muncul tekanan politik dan laporan mengenai surat panggilan dari Departemen Kehakiman AS.

Selain keputusan The Fed, rilis data ekonomi AS juga diperkirakan turut memengaruhi pergerakan pasar. Sentimen yang berkembang saat ini berpotensi menjaga volatilitas tetap tinggi sepanjang sesi AS.

Data Trading Central:

  • Keputusan suku bunga The Fed (Kamis, 02.00 WIB)
    Perkiraan: 3,75% | Sebelumnya: 3,75%
Gold Cetak Rekor Baru

Harga emas dunia (XAUUSD) melonjak tajam sebesar US$130,66 atau 1.306 pip ke level US$5.311,42 per troy ons pada perdagangan sesi Eropa, sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Lonjakan harga emas dipicu oleh pelemahan signifikan dolar AS, menyusul komentar Presiden Trump yang dinilai semakin menegaskan sikap permisif terhadap depresiasi mata uang AS. Selain itu, konfirmasi bahwa calon pengganti Jerome Powell akan mengadopsi kebijakan yang lebih dovish memperkuat ekspektasi pelonggaran moneter, meningkatkan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.

Ketidakpastian geopolitik akibat ancaman tarif terhadap Korea Selatan dan Kanada turut memperkuat permintaan terhadap aset safe haven. Di saat yang sama, pelemahan dolar AS membuat emas menjadi lebih murah bagi investor pemegang mata uang lain, sehingga mempercepat arus masuk ke logam mulia.

Memasuki sesi AS, pasar akan mencermati dengan saksama pernyataan Jerome Powell. Jika muncul sinyal bahwa independensi The Fed berpotensi tergerus akibat tekanan politik, emas diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren penguatannya.

Kesimpulan Analisis Pasar: Pasar Global Wait and See

Secara keseluruhan, pasar global masih berada dalam fase wait and see dengan bias risiko yang condong ke aset lindung nilai. Kombinasi tekanan politik terhadap kebijakan moneter AS, pelemahan struktural dolar, serta meningkatnya ketegangan geopolitik membuat sentimen pasar tetap rapuh. Selama ketidakpastian mengenai independensi The Fed belum mereda dan arah kebijakan moneter AS semakin dovish, volatilitas diperkirakan akan bertahan tinggi.

Dalam kondisi tersebut, emas berpotensi tetap menjadi tujuan utama arus dana, sementara aset berbasis dolar AS cenderung bergerak defensif hingga muncul kejelasan dari pernyataan Federal Reserve pada sesi perdagangan AS. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Modus Baru Debt Collector: Pesan Ambulans Fiktif untuk Tagih Utang, Sopir di Jakarta Jadi Korban

DCNews, Jakarta — Panggilan darurat yang seharusnya menyelamatkan nyawa justru...

Kasus Kekerasan Seksual Mahasiswa FH UI, Habiburokhman: Jangan Berhenti di Forum Kampus

DCNews, Jakarta — Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman...

Kenaikan Tiket Pesawat Diusulkan 9–13 Persen, DPR Minta Pemerintah Lindungi Masyarakat Kepulauan

DCNews, Jakarta — Rencana kenaikan tarif tiket pesawat domestik...

Bahaya Pinjol dan Judi Online bagi Gen Z, Literasi Finansial Jadi Kunci

Oleh: Asep Dahlan (Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant) Di...