DCNews, New York – JPMorgan Chase & Co. memperingatkan bahwa rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit maksimal 10 persen berpotensi mengubah secara drastis model bisnis perbankan, merugikan konsumen, dan menekan stabilitas ekonomi Amerika Serikat.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala Keuangan JPMorgan, Jeremy Barnum, menyusul seruan Trump yang mengusulkan pembatasan suku bunga kartu kredit selama satu tahun. Kebijakan itu menargetkan salah satu sumber pendapatan utama industri keuangan AS, terutama bank-bank besar penerbit kartu kredit.
“Jika kebijakan itu benar-benar diterapkan, dampaknya akan sangat buruk bagi konsumen dan perekonomian,” ujar Barnum dalam paparan kinerja kuartal keempat JPMorgan, Selasa (13/1/2026) waktu setempat.Ia menegaskan bahwa dalam skenario tersebut, bisnis kartu kredit “harus diubah secara signifikan.”
Meski demikian, JPMorgan menolak memberikan estimasi kerugian secara rinci. Barnum menyebut ketidakpastian kebijakan masih terlalu besar, seraya memperingatkan bahwa “segala kemungkinan bisa terjadi” dari usulan yang ia nilai sebagai arahan politik yang belum didukung landasan kebijakan yang matang.
Trump pertama kali melontarkan wacana pembatasan suku bunga kartu kredit pada Jumat lalu, dengan ancaman bahwa perusahaan yang tidak mematuhi aturan sebelum tenggat 20 Januari akan dianggap “melanggar hukum.” Pernyataan itu langsung mengguncang pasar keuangan.
Pada perdagangan Senin, saham JPMorgan—penerbit kartu kredit terbesar kedua di AS—turun 1,4 persen. Sementara Capital One Financial Corp., penerbit kartu kredit terbesar di negara tersebut, terkoreksi lebih tajam hingga 6,4 persen.
Tekanan terhadap industri keuangan meningkat sehari kemudian, ketika Trump melalui media sosial mendesak Kongres untuk mendukung Rancangan Undang-Undang Persaingan Kartu Kredit. RUU bipartisan itu mewajibkan bank-bank besar memberi opsi kepada pedagang untuk memproses transaksi di luar jaringan dominan Visa dan Mastercard.
Kebijakan tersebut secara langsung mengancam model bisnis Visa Inc. dan Mastercard Inc., yang selama ini menikmati margin tinggi dari biaya transaksi. Saham kedua perusahaan itu masing-masing anjlok hingga 5,6 persen dan 5,8 persen pada Selasa, menjadikannya dua saham berkinerja terburuk di indeks S&P 500 hari itu.
“Angin politik jelas sedang bergeser, dan ini membuat investasi fintech jangka pendek menjadi jauh lebih menantang,” tulis analis William Blair, Andrew Jeffrey, dalam catatan kepada klien. Menurutnya, Visa dan Mastercard “hampir pasti akan menghadapi dampak finansial, setidaknya dalam jangka pendek,” jika undang-undang tersebut disahkan.
Bisnis Inti Terancam
Bagi JPMorgan, kartu kredit bukan sekadar lini usaha pelengkap. Hingga akhir Desember, total pinjaman kartu kredit bank tersebut mencapai US$247,8 miliar. Secara keseluruhan, bisnis layanan kartu dan otomotif menyumbang pendapatan sekitar US$7,28 miliar pada kuartal keempat.
JPMorgan mencatat kenaikan pendapatan bersih sebesar 5 persen di segmen tersebut selama tiga bulan terakhir 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih dari saldo bergulir—komponen yang sangat sensitif terhadap pembatasan suku bunga.
Kelompok industri perbankan, termasuk Bank Policy Institute dan Consumer Bankers Association, menyatakan mendukung tujuan Trump untuk membuat kredit lebih terjangkau. Namun mereka memperingatkan bahwa pembatasan suku bunga justru dapat berdampak sebaliknya.
“Bukti menunjukkan bahwa batas suku bunga 10 persen akan mengurangi ketersediaan kredit dan menghancurkan jutaan keluarga Amerika serta pelaku usaha kecil yang bergantung pada kartu kredit,” demikian pernyataan bersama kedua organisasi tersebut.
Meningkatnya Intervensi Politik di Sektor Keuangan
Wacana pembatasan suku bunga kartu kredit mencerminkan meningkatnya intervensi politik terhadap sektor keuangan AS, terutama menjelang dinamika kebijakan ekonomi era Trump. Bagi pasar, ketidakpastian regulasi menjadi risiko utama yang berpotensi menekan valuasi saham perbankan dan jaringan pembayaran dalam jangka pendek.
Jika proposal ini berlanjut ke tahap legislasi serius, investor diperkirakan akan semakin selektif, sementara bank-bank besar mungkin terdorong mengalihkan strategi bisnis ke segmen pembiayaan dengan risiko regulasi lebih rendah. ***

