DCNews, Jakarta — Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat diimbau lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan dan tidak terjebak pada pinjaman online (pinjol) yang berpotensi menjerat kondisi finansial keluarga. Konsultan keuangan Asep Dahlan mengingatkan, lonjakan kebutuhan konsumsi selama Ramadhan kerap dimanfaatkan oleh pelaku pinjol, terutama yang ilegal, untuk menawarkan kemudahan dana cepat dengan risiko bunga tinggi dan penagihan yang tidak manusiawi.
Pendiri Dahlan Consultant yang akrab disapa Kang Dahlan ini menilai, Ramadhan seharusnya menjadi momentum pengendalian diri, termasuk dalam urusan keuangan. Namun realitas di lapangan menunjukkan, peningkatan kebutuhan belanja, mulai dari bahan pangan, biaya ibadah, hingga persiapan Lebaran, sering kali mendorong sebagian masyarakat mengambil jalan pintas melalui pinjaman daring.
“Masalahnya bukan hanya soal kebutuhan, tetapi minimnya perencanaan keuangan. Pinjaman online kerap terlihat sebagai solusi cepat, padahal justru menjadi awal dari masalah finansial yang lebih panjang,” kata Kang Dahlan, dalam keterangannya, Senin (12/1/2026).
Menurut dia, pinjaman online, terutama yang tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sering menyasar masyarakat dengan literasi keuangan rendah. Skema bunga berbunga, denda keterlambatan yang tidak transparan, serta tekanan psikologis melalui penagihan agresif menjadi risiko utama yang jarang disadari sejak awal.
Kang Dahlan menegaskan, pinjol bukan solusi untuk menutup kebutuhan konsumtif. “Ramadhan bukan tentang memperbanyak belanja, melainkan memperbanyak pengendalian. Jika pengeluaran dipaksakan lewat utang, dampaknya bisa dirasakan jauh setelah Lebaran usai,” ujarnya.
Solusi Agar Terhindar dari Jerat Pinjol
Untuk menghindari ketergantungan pada pinjaman online, Kang Dahlan menawarkan sejumlah langkah praktis yang bisa diterapkan masyarakat sejak sekarang.
Pertama, menyusun anggaran Ramadhan secara realistis. Ia menyarankan masyarakat memisahkan kebutuhan wajib dan keinginan tambahan. “Jika tidak masuk anggaran, sebaiknya ditunda,” katanya.
Kedua, memanfaatkan dana darurat atau tabungan, meski dalam jumlah terbatas. Menurut Kang Dahlan, lebih baik mengurangi skala konsumsi daripada memaksakan standar hidup dengan utang jangka pendek berbunga tinggi.
Ketiga, menghindari pinjaman untuk kebutuhan konsumtif, seperti belanja Lebaran atau gaya hidup. Pinjaman, kata dia, hanya relevan untuk kebutuhan produktif dan terencana dengan matang.
Keempat, meningkatkan literasi keuangan keluarga. Diskusi terbuka soal kondisi keuangan dengan pasangan dan anggota keluarga dinilai penting agar tekanan ekonomi tidak ditanggung sendiri dan berujung pada keputusan impulsif.
Terakhir, Kang Dahlan mengingatkan agar masyarakat hanya menggunakan layanan keuangan resmi dan terdaftar di OJK, serta tidak mudah tergiur iming-iming “cair cepat tanpa syarat”.
“Ramadhan seharusnya membawa ketenangan, bukan kecemasan karena dikejar utang. Mengelola keuangan dengan bijak adalah bagian dari menjaga kualitas ibadah dan kesejahteraan keluarga,” pungkas Kang Dahlan. ***

