Lonjakan Utang Pinjol Dinilai Akibat Lemahnya Literasi Risiko, Akademisi Peringatkan Kerentanan Rumah Tangga

Date:

DCNews, Jakarta— Lonjakan utang pinjaman online (pinjol) di Indonesia dinilai bukan semata dipicu kebutuhan dana mendesak, melainkan juga lemahnya literasi risiko keuangan masyarakat. Kondisi ini membuat banyak peminjam terjebak dalam pengambilan keputusan jangka pendek yang berujung pada beban utang berkepanjangan.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Rendra Anggoro, mengatakan rendahnya pemahaman terhadap risiko bunga dan struktur biaya pinjaman menjadi faktor utama meningkatnya utang pinjol. Dalam keterangan tertulisnya, Minggu (11/1/2026), ia menilai peminjam kerap mengabaikan konsekuensi jangka panjang demi memenuhi kebutuhan instan.

“Individu sering menutup mata terhadap beban bunga tinggi di masa depan hanya untuk menyelesaikan kebutuhan sesaat,” ujar Rendra.

Menurut dia, kesalahan yang paling sering terjadi dalam praktik adalah fokus peminjam pada bunga harian yang terlihat kecil, tanpa menghitung akumulasi biaya lain seperti administrasi, provisi di muka, serta total beban efektif pinjaman. Akibatnya, pinjaman yang tampak ringan di awal berubah menjadi tekanan keuangan yang signifikan.

Rendra juga menyoroti kebiasaan menggunakan pinjaman jangka pendek untuk membiayai kebutuhan rutin. Pola ini, kata dia, membuka jalan pada praktik “menambal utang dengan utang baru” melalui perpanjangan tenor atau pengajuan pinjaman lanjutan.

“Kesalahan paling fatal adalah optimisme bias. Peminjam mengabaikan rasio cicilan maksimal terhadap pendapatan dan terjadi mismatch tenor. Pada akhirnya, bunga dibayar dengan utang baru, dan ini menghancurkan ketahanan finansial rumah tangga,” kata Wakil Dekan III FEB Unismuh Makassar tersebut.

Ia menambahkan, persoalan ini diperparah oleh model bisnis platform digital yang agresif menawarkan pinjaman. Algoritma dan kemudahan proses pengajuan dinilai sering mengeksploitasi rendahnya literasi risiko pengguna, sehingga mendorong keputusan finansial yang tidak rasional.

Lebih jauh, Rendra menilai utang pinjol kini tidak lagi mencerminkan kebutuhan modal produktif, melainkan telah bergeser menjadi penyangga konsumsi harian. Fenomena ini, menurutnya, berkaitan erat dengan stagnasi upah riil dan meningkatnya biaya hidup masyarakat.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total outstanding pembiayaan pinjaman daring (pindar) mencapai Rp94,85 triliun per November 2025. Angka tersebut tumbuh 25,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp90,99 triliun.

Di tengah kemudahan akses pinjaman melalui gawai, peningkatan utang pinjol itu menjadi sinyal serius kerentanan ekonomi rumah tangga.

“Lonjakan utang pinjol hingga Rp94,85 triliun adalah alarm bahaya. Ketika pinjaman bergeser dari alat produktif menjadi penyangga konsumsi harian, banyak rumah tangga masuk dalam siklus gali lubang tutup lubang,” tegas Rendra. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Diduga Debt Collector Leasing Rampas Mobil Warga di Gorontalo, Polisi Amankan Satu Unit Kendaraan

DCNews, Gorontalo — Aparat Polsek Mananggu, Kabupaten Pohuwato, mengamankan satu...

Aria Bima Tegaskan Pilkada Langsung Amanat Konstitusi yang Tak Bisa Ditawar

DCNews, Jakarta — Wakil Ketua Komisi II DPR RI dari...

Gugatan ke MK: Celah Persetujuan Data Pribadi Dinilai Picu Penyalahgunaan Pinjol

DCNews, Jakarta— Ketika negara berupaya membangun perlindungan data pribadi...

Desa Pondasi Bangsa, Habib Aboe: Harus Jadi Subjek Pembangunan

DCNews, Jakarta — Anggota DPR RI dari Fraksi Partai...