Harga Emas, Perak, dan Platinum Cetak Rekor Sepanjang Masa, Ketegangan Geopolitik dan Dolar AS Melemah Jadi Pendorong

Date:

DCNews, Jakarta — Harga emas, perak, dan platinum melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa, menandai reli akhir tahun yang luar biasa di pasar logam mulia. Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, melemahnya dolar Amerika Serikat, serta ekspektasi berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve.

Harga emas spot sempat naik hingga 1,2% dan menembus level tertinggi baru di atas US$4.530 per troy ons, memperkuat posisinya sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global.

Ketegangan di Venezuela—setelah Amerika Serikat memblokade kapal tanker minyak dan meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Nicolás Maduro—turut mendorong permintaan emas sebagai aset safe-haven. Washington juga melancarkan operasi militer terhadap kelompok ISIS di Nigeria bersama pemerintah setempat, menambah sentimen risiko geopolitik.

Reli tajam juga terjadi pada perak. Harga perak spot melonjak selama lima sesi berturut-turut dan sempat naik hingga 4,6% ke atas US$75 per troy ons. Kenaikan ini dipicu oleh derasnya arus dana spekulatif serta gangguan pasokan yang berkepanjangan di pusat perdagangan utama, menyusul peristiwa short squeeze bersejarah pada Oktober lalu.

Pelemahan dolar AS turut menjadi faktor kunci. Indeks Spot Dolar Bloomberg tercatat turun 0,7% sepanjang pekan ini, penurunan mingguan terbesar sejak Juni. Dolar yang melemah secara historis meningkatkan daya tarik logam mulia yang dihargakan dalam mata uang tersebut.

Sepanjang tahun ini, harga emas telah melonjak sekitar 70%, sementara perak melesat lebih dari 150%, menempatkan keduanya pada jalur kinerja tahunan terbaik sejak 1979. Reli tersebut ditopang oleh pembelian agresif bank sentral, arus masuk signifikan ke produk dana yang diperdagangkan di bursa (exchange-traded funds/ETF), serta tiga kali pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang tahun.

Biaya pinjaman yang lebih rendah menjadi katalis utama bagi logam mulia, yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Pelaku pasar kini semakin yakin bahwa siklus pelonggaran moneter belum berakhir dan masih membuka peluang pemangkasan suku bunga lanjutan pada 2026.

Di sisi lain, kebijakan perdagangan agresif Presiden AS Donald Trump—termasuk langkah-langkah yang merombak tatanan perdagangan global serta retorika yang dinilai mengancam independensi The Fed, turut memperkuat daya tarik logam mulia sejak awal tahun. Permintaan investor juga diperkuat oleh apa yang dikenal sebagai debasement trade, yakni strategi menghindari obligasi pemerintah dan mata uang fiat di tengah kekhawatiran terhadap lonjakan utang publik.

Ketahanan emas tercermin dari kemampuannya pulih cepat setelah terkoreksi dari puncak sebelumnya di US$4.381 pada Oktober, ketika reli sempat dinilai terlalu panas. Lonjakan terbaru didorong oleh pembelian ETF berskala besar, dengan kepemilikan di SPDR Gold Trust—ETF emas terbesar dunia—meningkat lebih dari 20% sepanjang tahun ini.

Reli Perak Lebih Eksterim

Reli perak bahkan dinilai lebih ekstrem. Gudang penyimpanan di London mencatat arus masuk signifikan pasca-tekanan Oktober, meski sebagian besar stok perak global masih tertahan di New York. Hal ini terjadi karena pelaku pasar menunggu hasil penyelidikan Departemen

Perdagangan AS terkait apakah impor mineral kritis, termasuk perak, berpotensi mengancam keamanan nasional—sebuah proses yang dapat membuka jalan bagi tarif atau pembatasan perdagangan baru.

“Banyak transaksi masih berbentuk posisi di atas kertas. Sekarang, pasar harus menutupnya dengan volume fisik—sementara pasokan yang tersedia tidak mencukupi,” kata Manav Modi, analis komoditas di Motilal Oswal Financial Services Ltd. “Perak di atas kertas harus didukung oleh perak fisik yang nyata.”

Platinum Turut Catat Reli Tajam

Sementara itu, platinum turut mencatat reli tajam. Dalam beberapa pekan terakhir—dan lebih dari 40% hanya bulan ini—harga platinum melonjak hingga diperdagangkan di atas US$2.400 per troy ons, level tertinggi sejak Bloomberg mulai mengumpulkan data pada 1987. Selain permintaan fisik yang kuat, pasar memperkirakan defisit pasokan global untuk tahun ketiga berturut-turut, terutama akibat gangguan produksi di Afrika Selatan, produsen utama dunia.

Pada perdagangan terakhir, harga emas naik 0,7% menjadi US$4.510,84 per troy ons pada pukul 12.15 waktu London. Perak melonjak 3,5% ke US$74,39, platinum menguat 5,4% menjadi US$2.377,75, sementara paladium mencatat kenaikan tajam hingga 6%. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Teror Baru Pinjol dan Krisis Kepercayaan: Ketika Layanan Publik Disalahgunakan untuk Menagih Utang

Oleh: Asep Dahlan, Pendiri Dahlan Consultant Di tengah laju pesat...

OJK Perpanjang Tenggat Laporan Keuangan Asuransi hingga Juni 2026, Ini Alasannya

DCNews, Jakarta — Di tengah upaya memperkuat transparansi dan...

Wow! Utang Pinjol Jawa Barat Tembus Rp23,94 Triliun, Sinyal Tekanan Ekonomi Kelas Menengah Bawah Meningkat

DCNews, Bandung — Di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian...

Ancaman Pembunuhan oleh Pinjol Ilegal Dilaporkan ke OJK, Debitur di Tapanuli Utara Alami Intimidasi

DCNews, Tapanuli Utara — Seorang debitur pinjaman online di Tarutung,...