DCNews, Dhaka — Gelombang kerusuhan melanda sejumlah kota besar di Bangladesh setelah seorang aktivis kunci di balik demonstrasi massal 2024 tewas ditembak, memicu kekhawatiran baru atas rapuhnya transisi politik di negara Asia Selatan itu menjelang pemilu nasional.
Sharif Osman Hadi, pemimpin organisasi pro-demokrasi Inqilab Mancha, meninggal dunia akibat luka tembak saat menjalani perawatan medis di Singapura. Ia ditembak pada 12 Desember di Dhaka, hanya sehari setelah Komisi Pemilihan Umum mengumumkan jadwal pemungutan suara nasional yang direncanakan berlangsung pada Februari mendatang.
Pembunuhan tersebut segera memicu kemarahan publik. Aksi protes berubah menjadi kerusuhan di berbagai wilayah, termasuk ibu kota Dhaka dan kota pelabuhan Chattogram, memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas politik Bangladesh pasca-kejatuhan pemerintahan sebelumnya.
Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional pada Kamis (18/12/2025) malam, pemimpin pemerintahan interim Muhammad Yunus berupaya menenangkan situasi. Ia menyebut Hadi sebagai “pejuang garis depan yang tak kenal takut” dalam perjuangan demokrasi Bangladesh.
Yunus menetapkan Sabtu sebagai hari berkabung nasional dan berjanji akan mengusut tuntas apa yang ia sebut sebagai “pembunuhan brutal.” “Mereka yang bertanggung jawab akan dihadapkan ke pengadilan,” ujarnya.
Namun hingga Jumat (19/12/2025) pagi, ketegangan belum mereda. Aparat keamanan dikerahkan secara besar-besaran di titik-titik strategis Dhaka dan Chattogram untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Sejumlah media lokal melaporkan bahwa massa di Dhaka membakar kantor dua surat kabar terbesar Bangladesh, Prothom Alo dan The Daily Star, menyebabkan sejumlah jurnalis terjebak di dalam gedung selama berjam-jam sebelum akhirnya dievakuasi.
Kerusuhan juga menyasar Museum Peringatan Bangabandhu, bekas kediaman Sheikh Mujibur Rahman—tokoh utama kemerdekaan Bangladesh dan ayah dari mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina. Hasina melarikan diri ke India tahun lalu setelah gelombang protes rakyat menggulingkan pemerintahannya.
Di Chattogram, polisi menggunakan gas air mata dan tongkat untuk mengamankan Kedutaan Besar India. Kemarahan massa sebagian besar diarahkan kepada New Delhi, yang hingga kini masih memberikan perlindungan politik kepada Hasina.
Upaya penyerbuan kedutaan oleh sekelompok anggota Inqilab Mancha sempat berlangsung damai. Namun situasi memburuk ketika kelompok lain tiba dan mulai melemparkan batu serta bata ke arah kompleks diplomatik tersebut.
“Polisi segera bertindak untuk memulihkan ketertiban,” kata Hasib Aziz, Komisaris Kepolisian Metropolitan Chattogram. “Tidak ada kerusakan material, dan seluruh pejabat kedutaan dalam kondisi aman.”
Yunus juga mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan telah memberinya pembaruan langsung mengenai kondisi terakhir Hadi sebelum meninggal dunia.
Dalam pernyataan kerasnya, Yunus memperingatkan bahwa kekerasan tidak akan mampu membungkam aspirasi rakyat. “Tidak seorang pun dapat menghentikan kemajuan demokrasi negara ini melalui ketakutan, teror, atau pertumpahan darah,” katanya.
Pembunuhan Hadi kini menjadi ujian terbesar bagi pemerintahan interim Bangladesh—apakah mampu menegakkan keadilan, mengendalikan kekerasan jalanan, dan memastikan pemilu berlangsung kredibel di tengah krisis kepercayaan publik yang kian dalam. ***

