Di Balik Kemudahan Pinjol, Ancaman Serius bagi Kesehatan Mental dan Keuangan Masyarakat

Date:

DCNews, Jakarta — Kemudahan akses dan pencairan cepat membuat pinjaman online (pinjol) kian populer di Indonesia. Namun di balik janji solusi instan itu, para psikolog dan pengamat keuangan memperingatkan adanya risiko serius yang mengintai: tekanan mental, gangguan kesehatan fisik, hingga perilaku finansial yang kian tidak terkendali.

Psikolog Idha mengatakan pinjol kerap menjadi pemicu stres finansial berkepanjangan, terutama ketika peminjam gagal membayar tepat waktu. Bunga tinggi dan praktik penagihan agresif, kata dia, dapat memicu kecemasan berlebih hingga depresi. “Tekanan psikologis akibat pinjol tidak berhenti di pikiran. Dampaknya bisa merembet ke fisik, seperti gangguan tidur, nafsu makan menurun, bahkan tekanan darah meningkat,” ujarnya, melalui keterangan tertulisnya, Rabu (17/12/2025).

Fenomena pinjol juga dinilai memperkuat budaya konsumtif. Banyak pengguna tergoda meminjam tanpa perencanaan keuangan yang matang, lalu terjebak dalam lingkaran utang berulang. Psikolog klinis Dr. Ratna menyebut kondisi tersebut sering dibarengi rasa bersalah dan malu. “Emosi negatif akibat utang yang menumpuk justru memperparah kondisi mental dan membuat seseorang sulit keluar dari masalah keuangan,” katanya.

Risiko kesehatan mental akibat pinjol tercermin dalam temuan Asosiasi Psikologi Indonesia (API). Dalam survei per November 2025, sekitar 40 persen pengguna pinjol melaporkan mengalami kecemasan berlebihan, kesulitan tidur, serta rasa tertekan setiap kali menghadapi tagihan. Para ahli menilai gejala ini perlu dikenali sejak dini karena stres berkepanjangan dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi kronis.

Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, psikolog menyarankan sejumlah langkah pencegahan. Perencanaan keuangan sebelum meminjam menjadi kunci utama, termasuk menghitung kemampuan membayar secara realistis. Penggunaan pinjol juga disarankan dibatasi hanya untuk kebutuhan mendesak. “Jika tekanan psikologis mulai terasa, jangan ragu mencari bantuan profesional,” ujar Idha.

Literasi Keuangan Penting

Edukasi literasi keuangan juga dinilai penting agar masyarakat memahami risiko bunga tinggi, denda, dan praktik penagihan yang kerap menyertai pinjaman digital.

Masalah pinjol, menurut para pakar, tidak bisa diselesaikan hanya dengan kesadaran individu. Literasi digital dan finansial masyarakat masih menjadi tantangan besar. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2025 menunjukkan kurang dari 30 persen masyarakat Indonesia memahami risiko pinjaman online secara menyeluruh. Rendahnya pemahaman ini membuat banyak orang mudah tergiur iklan pinjaman instan tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.

Pinjaman online memang menawarkan jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan finansial jangka pendek. Namun, tanpa perencanaan dan pemahaman yang memadai, kemudahan itu dapat berubah menjadi beban berat—baik bagi kesehatan mental maupun stabilitas keuangan. Para ahli menegaskan, kehati-hatian, literasi finansial, dan perhatian pada kesehatan psikologis adalah kunci agar masyarakat tidak terjerat dalam risiko pinjol yang berkepanjangan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

DPR, OJK, dan Direksi Baru BEI Sepakat Benahi Tata Kelola Bursa, Fokus pada Transparansi dan Integritas Pasar Modal

DCNews, Jakarta — Pimpinan DPR RI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK),...

Satgas PASTI Tindak Tegas Finfluencer Promosikan Investasi Bodong

DCNews, Jakarta — Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas...

Rekap Harian, Piala Dunia 2026: Inggris Taklukkan Kroasia, Portugal Ditahan Kongo, Ghana Menang Dramatis

DCNews, Jakarta — Inggris mengawali kampanye mereka di Piala Dunia...

OJK Batasi Layanan Paylater Hanya untuk Bank dan Perusahaan Pembiayaan, Masa Transisi hingga Akhir 2027

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat pengaturan industri...